Oleh: Afif Wirandy dan Khalid Syaifullah

Pendahuluan

Sangat menyedihkan melihat segala sesuatu yang besar bermula, berakhir menjadi kepingan-kepingan kecil. Seperti tim sepakbola, AC Milan umpamanya. Tim besar yang sudah lahir sejak akhir abad ke-19 ini, takluk 0-1 oleh lawannya di laga pamungkas Derby della Madonnina, Inter Milan. Milan hancur berkeping-keping. Tapi ada satu hal yang pasti: kepingan-kepingan itu menandai bahwa segala sesuatu tak akan pernah hilang sama sekali. Ya, hanya kepingan. Tapi tidak untuk hilang selamanya. Masih ada derbi-derbi berikutnya untuk Milan. Di semester depan, di tahun-tahun yang depan.

Begitu pun halnya dengan sebuah peradaban. Istilah yang merujuk pada banyak konsep dan definisi ini, juga mengalami hal demikian, khususnya peradaban Yunani. Pernah suatu masa, kebudayaan Yunani sampai melancong jauh menyapa kebudayaan lain di sepanjang peradaban Eropa, Mesir, sampai Asia kecil―Syria, Palestina, Yahudi, India dan sebagainya. Pernah pula suatu masa, ketika Raja Alexander Agung―dari Macedonia, Yunani sebelah Utara―mempersatukan berbagai peradaban dunia menjadi sebuah ‘peradaban tunggal’. Atau istilahnya, sebuah Pan-Civilization. Kata ‘Pan’ inilah yang disebut Hellenisme.

Namun pada akhirnya, kebudayaan Hellenisme hancur lebur dihantam oleh kekuatan Romawi. Inilah gerbang Abad Pertengahan. Abad yang juga sering dinamakan Abad Kegelapan. Namun, kepingan-kepingan semangat Hellenisme menemukan kembali bentuknya pada masa Pencerahan, yakni masa setelah bubarnya Abad Pertengahan.

Asal Muasal Bangunnya Hellenisme

Sebelum Alexander naik tahta menggantikan ayahnya, Raja Phillip II, Yunani dilanda perpecahan. Perpecahan ini diakibatkan oleh ke-ngotot­-an masing-masing daerah untuk mempertahankan kebebasannya (Mastury, 1998: 23). Penaklukkan Sparta atas Athena belum menyelesaikan perpecahan. Maklum, Sparta memang dikenal lebih menonjolkan angkatan perangnya.

Di saat-saat seperti itu, berdiri sebuah negara di Macedonia yang kaya akan sumber daya emas. Raja Phillip II lah yang memimpinnya. Dengan segala daya upaya, ia menyatukan kembali Yunani sekaligus langsung memperluas wilayah kekuasaan. Namun, Raja Phillip II tewas sebelum hal itu terjadi. Ia tewas oleh sekelompok orang yang―malah―sering berkunjung ke istananya (1998: 23-24).

Raja Phillip II wafat dan segera digantikan oleh anaknya, Alexander. Nama yang terakhir ini lah yang memegang peranan besar dalam berdirinya apa yang dinamakan Hellenisme. Sepanjang sepak terjangnya, Alexander berhasil menaklukan beberapa daerah hingga ke Asia kecil, termasuk wilayah Persia sampai Mesir. Maka pantaslah ia diberi gelar ‘The Great’ atau ‘Yang Agung’.

Namun, di samping itu, kalau kita mau jujur, adalah Aristoteles yang memainkan peranan intelektual bagi Alexander. Aristolah yang menanamkan semangat ilmu pengetahuan di dalam diri Alexander layaknya Iblis membisikan Adam dan Hawa untuk makan buah khuldi. Setiap tindakan besar pasti mengandung kesatuan teori dan praksis. Aristo yang menyuntikkan semangat teoritis ke dalam kepala Alexander.

Semenjak itu, Athena yang menjadi pusat persemaian filsafat sebelumnya, tidak lagi menjadi dominan dalam era Hellenisme. Segala sesuatu menyangkut ilmu pengetahuan maupun mitologi, tersebar jauh dan menemukan proses modifikasi. Setidaknya, hal ini dapat dilihat dalam pemikiran-pemikiran yang menonjol, yang kita temukan dalam pemikiran Epicurean, Stoik, Skeptik, Sinistik, maupun Neo-Platonis. Empat pemikiran awal mewakili cabang etika, sementara yang terakhir masih berkutat pada cabang epistemologis.

Di samping itu, perlu juga dipahami bahwa masa Hellenisme merupakan masa dimana filsafat bersentuhan dengan agama. Sentuhan ini diartikan sebagai hubungan yang dialektis antara filsafat dan agama, yang terlihat jelas dari pertemuan antara ilmu pengetahuan Yunani dengan mistisisme dari Timur. Hal ini sangat terlihat di wilayah Alexandria (Mesir) dan menemukan bentuknya dalam pemikiran filsafat Islam (Wijaya, 2008:31).

Epicurean (341-270)

Tujuan filsafat Epicurean ialah menjamin kebahagiaan manusia. Oleh karena itu inti pikirannya berkisar kepada etika. Ajarannya yang mengenai fisika dan teori pengenalan hanya berfungsi sebagai persiapan etikanya (Hadiwijono, 2005: 55). Ajaran ini bermula dari seorang murid Sokrates bernama Aristippus. Dia percaya tujuan hidup adalah meraih kenikmatan indrawi setinggi mungkin. Yang katanya “kebaikan adalah kenikmatan dan kejahatan adalah penderitaan”. Maka dari itu dia mengembangkan cara hidup dengan menghindari penderitaan dalam segala bentuknya.

Epicurus adalah pendirinya. Para pengikutnya dinamakan dengan kaum Epicurean. Epicurus lahir kira-kira 5 sampai 6 tahun setelah kematian Plato, ketika Aristoteles berumur 42 tahun (Stumpf & Fieser, 2003: 104). Para kaum Epicurean menggembangkan etika kenikmatan Aristippus dan menggabungkan teori atom Democritus.

Epicurean konon hidup di taman, dan pintu masuk taman tersebut digantungkan sebuah tulisan yang berbunyi, “Orang asing, disini kalian akan hidup senang. Disini kenikmatan adalah kebaikan tertinggi”. Epicurus menekankan bahwa suatu hasil-hasil yang menyenangkan dari suatu tindakan harus mempertimbangkan efek samping yang mungkin di timbulkan. Sebagai contoh, jika kamu membeli sebuah iPhone dengan harga 12 juta rupiah, namun setelah beberapa bulan kamu menyadari bahwa iPhone yang seharga 12 juta tersebut sama halnya dengan harga sebuah motor dengan fungsi kegunaannya lebih menguntungkan. Dengan begitu kamu akan mengerti apa yang di maksudkan Epicurus dengan akibat sampingan.

Epicurus juga mempercayai bahwa hasil yang menyenangkan dalam jangka pendek harus di tahan demi kemungkinan timbulnya kenikmatan yang lebih besar, lebih kekal, atau lebih hebat dalam jangka waktu yang panjang. Mungkin kamu tidak akan membeli iPhone yang seharga 12 juta rupiah, namun memilih menabung seluruh uang tersebut untuk menikmati hal yang lebih tinggi. Jalan-jalan ke Eropa misalnya.

Namun Epicurus menekankan bahwa “kenikmatan” tidak harus melalui indrawi. Inilah titik perbedaan Epicurus dengan Aristippus. Ia lebih menekankan kepada nilai-nilai seperti persahabatan dan penghargaan terhadap kesenian. Menurut Yunani kuno, untuk menikmati hidup di perlukan kontrol-diri, kesederhanaan, dan ketulusan. Nafsu harus di kekang, dan ketenteraman hati kita membantu menahan penderitaan.

Rasa takut kepada dewa-dewa mendorong orang-orang masuk ke taman Epicurus. Dalam kaitan ini, teori atom Democritus merupakan obat yang berguna bagi takhayul keagamaan. Stumpf dan Fieser (2003: 105) menjelaskan:

Building upon this “atomic theory”, Epicurus concluded that everything that exist must be made up of eternal atoms—small, indestructible bits of hard matter.

Untuk menjalani kehidupan yang baik tidak harus mengatasi rasa takut akan kematian. Tujuan Epicurus memanfaatkan teori Democritus tentang “atom jiwa”. Bahwa Democritus percaya tidak ada kehidupan setelah kematian sebab ketika kita mati, “atom-atom jiwa” menyebar ke seluruh penjuru. Dengan santai nya Epicurus berbicara “kematian tidak menakutkan,. Sebab selama kita masih ada, kematian tidak bersama kita. Ketika kematian datang kita tidak ada lagi.”

Ada empat ramuan obat yang meringkas filsafat pembebasannya Epicurus, yaitu: Dewa-dewa bukan harus yang ditakuti. Kematian tidak perlu dikhawatirkan. Kebaikan itu mudah dicapai. Ketakutan itu mudah ditanggulangi.

Dari sudut pandang Yunani, tidak ada yang baru dalam proyek-proyek filsafat jika dibandingkan dengan proyek ilmu pengobatan. Intinya adalah manusia harus membekali diri dengan “kotak obat filosofis” yang memuat keempat unsur yang disebutkan diatas.

Para pengikut Epicurus hanya menunjukan sedikit minat atau bahkan tidak sama sekali pada politik dan masyarakat. “Hidup dalam pengasingan!” itulah yang dinasihatkan Epicurus. Mungkin dapat membandingkan “taman”-nya dengan komune masa sekarang. Dimana banyak orang di masa kini yang berusaha menemukan “pulau yang aman”―jauh dari masyarakat.

Meneladani Epicurus, para pengikutnya melakukan pemanjaan diri dengan yang berlebihan. Motto mereka adalah “Hidup untuk saat ini!” kata “Epicurean” digunakan pengertian negatif saat ini yang berarti seseorang hidup hanya untuk demi kesenangan.

Antisthenes (400SM)

Filsafat Sinis, adalah motto filsafat yang didirikan oleh Antisthenes di Athena sekitar 400 SM. Antisthenes pernah menjadi murid Socrates dan sangat tertarik dengan kesederhanaannya. Kaum Sinis menekankan bahwa kesejahteraan sejati tidak terdapat dalam kelebihan lahiriah, seperti kemewahan materi, kekuasaan politik, maupun kesehatan. Karena kebahagiaan sejati terletak pada ketidaktergantungan pada suatu hal yang acak. Maka keuntungan semacam ini semua orang dapat meraihnya, karena begitu hasil yang ia raih, ia tidak akan pernah lepas lagi.

Diogenes adalah seorang kaum sinis yang terkenal dan juga murid dari Antisthenes, konon hidup di dalam sebuah tong dan tidak memiliki apa pun kecuali mantel, tongkat, dan kantung roti. Suatu hari ketika sedang duduk di samping tongnya menikmati cahaya matahari, dia dikunjungi oleh Sang Raja Alexander Agung. Sang raja berdiri dihadapannya dan beliau menanyakan kepada Diogenes, “Adakah sesuatu yang engkau inginkan?”. Diagones menjawab. “Ya, bergeserlah kesamping. Anda menghalangi cahaya matahari yang sedang saya nikmati.” Dengan cara tersebut Diagones membuktikan bahwa dia tidak kalah kaya dan bahagia dibanding Sang Raja yang menghalangi di hadapannya. Dan dia telah membuktikan bahwa dia telah memiliki semua yang diinginkan.

Kaum Sinis percaya bahwa manusia tidak perlu memikirkan kesehatannya, bahkan penderitaan maupun kematian sama sekali tidak boleh menggangu mereka. Dan kesengsaaran orang lain pun tidak boleh karena hanya membuat diri sendiri menjadi tersiksa. Istilah “sinis” dan “sinisme” mempunyai istilah mengandung cemooh ketulusan manusia dan ketidakpekaan terhadap penderitaan orang lain.

Stoik (300 SM)

Perkembangan filsafat Stoik dibantu oleh kaum Sinis di Athena sekitar 300 SM. Pendiri filsafat Stoik adalah Zeno, yang sebenarnya berasal dari Syprus dan pernah bergabung dengan kaum Sinis di Athena. Nama “Stoik” berasal dari kata Yunani yang berarti serambi (stoa). Stoikisme mempunyai pengaruh budaya dengan bangsa Romawi. Kaum Stoik berpihak kepada Socrates yang dimana setiap orang adalah dari satu akal―atau “logos”―yang sama (Stumpf & Fieser, 2003: 108). Yang beranggapan       setiap orang adalah miniatur, atau “Mikrokosmos”, cerminan dari “Makrokosmos”.

Suatu kebenaran universal dinamakan hukum alam. Dan karena hukum alam didasarkan pada akal manusia yang abadi dan universal, dan tidak berubah seiring jalannya waktu atau berpindah tempat. Hukum alam mengatur seluruh umat manusia. Ketentuan undang-undang dari berbagai negara hanyalah tiruan dan tidak sempurna dari “Hukum” yang tertanam pada alam itu sendiri.

Perbedaan individu dan alam raya dihapuskan oleh kaum Stoik, mereka menyangkal pertentangan “ruh” dan “materi”. Menurutnya, “ruh” itu terlekat dalam alam materi. Segala yang tidak material dianggap tak nyata. Pandangan Stoik juga dianggap materialistis (Hadiwijono, 2005: 57).

Mereka menegaskan bahwa hanya ada satu alam, yaitu monoisme. Kaum Stoik lebih menerima kebudayaan kontemporer. Kaisar Romawi Marcus Aurelius (121-180 M) sebagai contohnya, beliau memberi perhatian lebih pada persahabatan manusia, sibuk dengan politik. Sang Raja mendorong berkembangnya kebudayaan dan filsafat Yunani di Romawi.

Selain itu, ajaran Stoik terdapat pada Cicero. Setidaknya, hal ini terlihat dalam semangat humanisme yang dikampanyekannya. Humanisme memandang seorang manusia adalah subjek terpenting dalam jagat raya semesta ini. Oleh karena itu, maka penghargaan terhadap manusia menjadi hal yang utama dan dijunjung tinggi.

Skeptisisme (± 300 SM)

Ajaran ini dikembangkan oleh Pyrrho dari Elis. Inti ajarannya berpangkal pada relativisme. Ia menganggap segala hal yang diamati oleh manusia berpontensi keliru. Seandainya pun benar, kebenaran itu hanya berlaku pada hal-hal lahiriah saja, bukan pada hakekatnya.

Bukan hanya pengamatan, akal juga memberi pengetahuan yang bersifat relatif. Anggapan-anggapan manusia adalah relatif. Oleh karena itu, setiap dalil bisa bersifat benar sekaligus salah. Maka sebaiknya, manusia bertindak sesedikit mungkin. Disinilah letak kebahagiaannya, bahwa manusia dengan sengaja tidak berbuat dan tidak membuat penilaian (Hadiwijono, 2005: 60).

Neoplatonisme (205-270 M)

Salah satu corak pemikiran Hellenis yang menarik adalah Neoplatonisme. Sebab, berbeda dengan tiga pemikiran awal yang bercorak Sokratian, Neoplatonisme mengambil corak pemikiran Plato. Aliran ini mengafirmasi tentang hakekat realitas tertinggi atau “idea”-nya Plato. Pendirinya adalah Ammonious Sakkas dari Alexandria, namun ajarannya hamper tak dapat diketahui sebab ia tak meninggalkan karya tulisan apapun (Hadiwijono, 2005: 66).

Tokoh yang menonjol dari Neoplatonisme adalah Plotinus. Ia menyetujui dualisme Plato, bahwa di samping realitas duniawi yang dapat diamati, terdapat dunia idea. Stumpf dan Fieser (2003: 120) menyebutkan:

The material world, with its multiplicity of things, cannot be the true reality, Plotinus thought, because its always changing. The true changeless reality is God, about whom nothing specifically descriptive can be said except that he absolutely transcends or lies beyond everything in the world. For this reason God is not material, is not finite, and is not divisible.

Menurutnya, dunia terentang antara dua kutub, dimana ujung yang satu merupakan cahaya “Yang Ilahi”, sementara yang lain ialah kegelapan mutlak. Menurut Plotinus, “Yang Ilahi” memancarkan sinar kepada jiwa, sementara materi ialah kegelapan yang tak terdapat sinar sama sekali. Bagaikan sebuah lilin di dalam rumah yang gelap, cahaya lilin hanya menerangi bagian terdekat dari pada lilin, misal bagian depan rumah yang terdiri dari meja, kursi, televisi, makanan kecil. Sementara apa yang berada di belakang rumah, seperti tempat tidur, kompor, dan wajan, tidak mendapatkan cahaya.

Akan tetapi, letak perbedaan antara Plato dan Plotinus terletak pada soal keterpisahan antara dunia idea dan materi. Dualisme Plato dinaikkan oleh Plotinus tingkatnya, ditempatkan dalam kesatuan yang lebih tinggi, di dalam kesatuan “arus hidup” yang mengalir dari “Yang Ilahi”. Jika Plato dunia materi terpisah dari dunia idea, Plotinus menganggapnya sebagai satu kesatuan. Bahwa kegelapan hanyalah tempat yang tak mendapat atau mendapat sedikit cahaya Ilahi. Ini berarti, kegelapan bukanlah ketiadaan. Ia ada, namun hanya mendapatkan cahaya Ilahi yang lemah. Begitu kira-kira.

Penutup

Itulah sekilas perkenalan kita dengan corak filsafat Hellenisme. Apa yang dikemukakan oleh beberapa mazhab pemikiran di atas, setidaknya mengandung sifat dialektis dari agensi terhadap struktur kebudayaan Yunani. Epicurus, Stoik, Sinisme, maupun Naeoplatonisme membuat hubungan-hubungan dialektis terhadap spectrum kebudayaan Yunani terhadap pemikirannya masing-masing.

Yang perlu dicatat ialah, setiap subjek yang berpikir haruslah terikat pada ruang dan waktu tertentu. Ini merupakan keniscayaan hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Gejala-gejala umum yang berlaku pada saat-saat tertentu ikut membentuk dan mengondisikan setiap corak pemikiran. Jadi, kita tidak bisa melepaskan kaitan subjek yang berpikir dengan kenyataan konkrit tempatnya hidup. Kita tak bisa menempatkan proposisi pemikiran seseorang pada ruang kosong yang bebas nilai. Karena hanya akan menghilangkan kontekstualisasi pemikiran dan semakin menjauhkan kita dari substansi tiap-tiap pandangan yang ingin kita pahami. Sekian.

 

 

Daftar Pustaka

Handiwijono, Harun. 2005. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Yogyakarta: Kanisius.

Mastury, Muh. 1998. Hellenisme: Suatu Kajian Mitologi dan Filsafat. Yogyakarta: Pusat Penelitian IAIN Sunan Kalijaga.

Stumpf, Samuel Enoch & James Fieser. 2003. Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy. New York: McGraw-Hill Companies.

Wijaya, Muhammad Iskak. 2008. Pengaruh Filsafat Hellenistik terhadap Konsep Akal dalam Filsafat Islam, diambil dari http://digilib.uin-suka.ac.id/511/, 16 September 2015.

Advertisements