Oleh : Ahmad Chaidir Ali & Ryan M Hidayat

Seringkali penulis mendengar sebuah kata ‘ideal’ yang terlontar dari mulut seorang sahabat rasul yang berparas Jawa. Hmm, usut punya usut‒sebelum jauh meminjam sebuah kata yang bisa membuat penulis tampak gagah dalam berbicara, akan lebih bijak jika memahami makna yang terkandung dalam satu kata tersebut. Mulailah seorang sahabat tersebut mendefinisikan‒apa itu yang disebut dengan ‘ideal’. Ideal berasal dari bahasa Yunani yang berarti Idea atau yang bisa diartikan sebagai sebuah visi atau kontempelasi. Artinya, sesuatu yang ideal adalah sesuatu yang dicitakan oleh manusia terlepas dari realita yang sebenarnya.

Seperti seorang anak berumur 5 tahun yang memiliki sebuah cita-cita menjadi seorang sosiolog, karena melihat dalam sebuah acara televisi bahwa sosiolog dapat bepergian ke bulan. Bisa dibilang bahwa cita-cita anak tersebut bukanlah sebuah cita-cita yang sebenarnya, karena tidak melewati sebuah proses yang disebut dengan refleksi. Artinya, sang anak hanya mengafirmasi bahwa sosiolog saat itu bisa dengan mudah pergi ke bulan tanpa memahami bagaimanakah pekerjaan seorang sosiolog yang sejatinya. Lambat laun, seiring dengan tumbuh dewasanya anak tersebut, dengan mendapatkan beberapa perspektif baru tentang apa itu sosiolog, sang anak pun sekarang sudah memahami dan akhirnya merefleksikan apakah benar menjadi sosiolog adalah hal yang sangat dia cita-citakan atau bukan.

Dari pemaparan di muka, didapatkan bahwa setiap manusia mempunyai suatu pandangan ideal tentang kehidupan yang dijalaninya. Tetapi pertanyaannya apakah sebuah pandangan atau konsep ideal itu murni hasil dari rasio manusia yang bebas atau itu hanya hasil dari distorsi interpretasi manusia yang beragam? Berbagai penjelasan tentang konsep ideal sudah banyak dilakukan oleh pemikir-pemikir. Dalam tulisan ini, penulis mencoba sedikit memaparkan sebuah aliran filsafat‒yang dikenal dengan nama idealisme. Aliran Idealisme berkembang di Jerman pada abad ke-19 dengan tiga pilar utama tokohnya adalah Fitchte, Schelling, dan Hegel.

Idealisme mempunyai titik tolak dalam arus keberangkatannya dalam filsafat. Adalah Immanuel Kant yang dikenal dengan aliran filsafat kritisisme yang menjadi titik tolak aliran idealisme. Dalam pemikiran filsafatnya, Immanuel Kant menciptakan sebuah closure (penutupan) sebagai usaha dalam mendamaikan kedua aliran filsafat yang saling bertentangan saat itu (rasionalisme dan empirisme). Namun alih-alih memberi jawaban dari sebuah pertentangan, dalam closure ini‒masih‒menyisakan banyak pertanyaan yang kemudian berdampak pada bangkitnya pemikiran idealisme Jerman. Tujuan utama dari proyek filsafat kant adalah untuk menunjukan bahwa manusia bisa memahami realitas alam dan moral dengan menggunakan akal budinya. Pengetahuan tentang alam dan moralitas itu berpijak pada hukum-hukum yang bersifat apriori, yaitu hukum-hukum yang sudah ada sebelum pengalaman inderawi.

Kant juga mengatakan ‘penampakan objek’ bukanlah ‘objek’. Objek diluar kita itu, menurutnya tidak kita ketahui. Dengan istilah Kant, “das Ding an sich” (benda pada dirinya) tidak kita ketahui. Maka dari itu yang kita tangkap sebagai penampakan itu sudah merupakan sintesis anatara efek objek pada subjek dan unsur a priori, yakni forma ruang dan waktu yang sudah ada pada subjek itu sendiri. Kant juga membedakan antara ‘penginderaan internal’ (persepsi atas keadaan-keadaan internal kita dan ‘penginderaan eksternal’ ( persepsi dari objek dari luar diri kita). Forma ruang adalah bentuk penampakan penginderaan internal sedangkan forma waktu adalah penginderaan internal itu. Menurut Kant, “das Ding an sich” tidak kita ketahui, tetapi kenyataan empiris selalu sudah merupakan sintesis antara unsur a priori dan a posteriori. Jadi apa yang dimaksud Kant itu, kenyataannya yang tampak itu tidak hanya kelihataannya berada dalam ruang dan waktu, melainkan sungguh-sungguh berada dalam ruang dan waktu. Kant mengatakan ruang dan waktu itu secara empiris real, tetapi secara transendental ideal. Secara empiris real, karena ruang dan waktu bukanlah sebuah ilusi, melainkan sesustu yang nyata secara inderawi dan secara transendental ideal adalah ruang dan waktu hanya bisa diterapkan pada penampakan. Tidak pada “das Ding an sich” jadi lebih ditentukan oleh struktur objek (Hardiman, 2007: 138).

Idealisme bangkit dengan meradikalkan konsep “das ding an sich”, sebab berdasarkan pemahaman para pemikir idealisme, Immanuel Kant dengan kritisisme tidak menjawab sesuatu hal yang masih misteri yaitu tentang adanya yang absoulut. Jika yang disebut dengan Kant dengan “das Ding an sich” adalah sesuatu yang ada namun tidak dapat diketahui, pertanyaannya adalah mengapa Kant bisa mengetahui hal tersebut? Kant seperti meminjam mata ketiga dalam tujuannya mengetauhi “das Ding an sich”. Maksudnya disini adalah ketika Kant mengatakan “das Ding an Sich” bukankah dia telah mengetahui keseluruhan tentang hal tersebut. Namun mengapa dia meninggalkannya dengan mengatakan bahwa itu melampaui rasio manusia? Dasar-dasar filsafat inilah yang menjadi pemicu kemunculan idealisme. Namun, pemicu kemunculannya tidak hanya pada faktor internal filsafat saja, melainkan adanya pengaruh dari faktor eksternal filsafat yaitu teologi. Teologi disini tidak dipahami sebagai teologi klasik yang mendasarkannya pada iman dan taqwa atau sesuatu yang berfisat dogma orde baru. Teologi disini bisa disebut dengan teologi dengan bumbu-bumbu mie sedap rasio manusia, yaitu sebuah perubahan dalam pemahaman tentang Tuhan menjadi sebuah yang absoulut. Sebab itu pula, hubungan manusia dengan Tuhan oleh idealisme diubah menjadi hubungan antara yang-terbatas dengan yang-tidak terbatas. Berikut ini adalah sedikit penjelasan dari tokoh-tokoh pemikir filsafat idealisme.

Johann Gottlie Fichte

Fichte lahir pada 19 mei 1762 dari keluarga yang melarat di kota Rammenau dan ia adalah anak seorang perajut pita. Fitchte disekolahkan atua dibiayai pendididkannya oleh seorang bangsawan kota itu ‒ Baron von MIlititz. Ficthe belajar teologi di universitas jena pada 1780 dan juga sempat belajar Leipzig dan Wina. Dalam masal studinya Ficthe sudah dipengaruhi oleh gerakan Romantis, dan dalam filsafat dia dipengaruhi oleh determinisme Spinoza. Saat dalam kariernya menjadi seorang dosen di Zurich, salah satu dari mahasiswanya yang meminta Ficthe untuk menjelasakan filsafatnya Kant. Sejak pada saat itu pula Ficthe mulai mempelajari Kant untuk pertama kalinya, bahkan sempat mengunjungi Kant di Konigsbreg.

Dari tahun 1794 Ficthe diangkat menjadi profesor filsafat di Universitas jena. Disini dia sangat disukai oleh para Mahasiswanya karena pemikirannya yang liberal dalam bidang agama. Dia menulis adikaryanya Grundlage der gesamten (Dasar Seluruh Teori Ilmu Pengetahuan) pada tahun 1794. Buku ini yang paling penting mengungkapkan posisi idealistisnya. Teori ilmu yang dibahas bukan sekedar sebuah epistemologi, melainkan juga metafisiska. Fichte juga menulis karya dalam bidang etika grundlage de naturrechts (Dasar Hukum Kodrat) dan Das der Sittenlehre (SistemTeori Etika).

Ficthe berpendapat bahwa filsafat harus menjadi sebagai ilmu pengetahuan, yang dimaksudkannya karena dual hal. Pertama, filsafat harus tersusun dari proporsi-proporsi yang membentuk keseluruh yang sistematis, sehingga setiap proporsi menduduki tempatnya yang cocok dalam sebuah susunan yang logis dan yang kedua, seperti halnya ilmu-ilmu lain, filsafat pun mesti mempunyai satu proporsi dasar yang medahului proporsi-proporsi lainnya. Dari dua konsep filsafat ficthe kita dapat menangkap bahwa konsep filsafatanya tentang metafisis.

Ficthe berpendapat sama halnya dengan Kant bahawa filsafat harus bertolak pada pengalaman, tetapi pengalaman di sini mendapat arti lebih khusus, yakni presentasi. Kata yang dipakai Ficthe adalah bayangan; gambaran. Lalu ficthe mengabstaraksi lebih lanjut karena pengalaman selalu merupakan kesadaran akan sesuatu objek, kita dapat mengatakan bahawa dalam setiap pengalaman akatual selalu ada dua unsur yang saling menjalin. Subjek (intelejensi pada dirinya sendiri) dan objek (benda pada dirinya sendiri). Pertanyaannya, manakah dari keduanya yang menghasilkan pengalaman aktual? Menurut Ficthe, kalau kita memilih yang kedua sebagai titik tolak pengalaman, kita justru memilih “dogmatisme”, yaitu kepercayaan bahwa objek menentukan intelejensi atau kesadran. Jika diradikalkan pilihan ini menjadi determinisme dan materialisme.

Harus ditegaskan bahwa bagi idealism asas dasariah filsafat adalah “intelejensi pada dirinya” yang disebutnya “Aku” atau “Ego”. Yang dimaksud disini adalah “Aku murni” yang melampaui “Aku empiris” seorang individu. Yang dimaksudkan dengan “Aku murni” itu tak lain daripada “kesadaran pada dirinya sendiri”. Menurut Ficthe “Aku murni” itu bukanlah substansi atau sebuah entitas yang melampaui kesadaran, melainkan sebuah kegiatan di dalam kesadaran.

Dari penjelasan konsep filsafatnya, Ficthe berusaha merumuskan proporsi dasar filsafat yang dicarinya. Perumusan ini juga dicapainya dengan jalan refleksi. Dia juga membedakan antara kegiatan spontan Aku murni dan refleksi filsuf atas Aku murni itu. Keduanya adalah kesadaran tetapi kita pun bisa membedakannya. Yang pertama, adalah kesadaran yang belum disadari, maka bukan kesadaran ‘bagi dirinya’ yang kedua, adalah kesadaran ‘bagi dirinya’, sebab sudah didasari oleh si filsuf lewat intuisi intelektualnya (Hardiman, 2007).

Fredrich Wilhelm Joseph Schelling

Schelling dilahirkan di kota Leonberg, Wurtemberg, pada 1775 dari sebuah keluarga yang shaleh. Ayahanya seorang pastor Lutheran. Pada usia 15 tahun dia sudah kuliah di Universitas Tuebingen. Di sana dia berkawan dengan Hegel dan Holderlin. Di usia muda dia pun salah satu dari murid Ficthe. Tidak lama kemudian dia menemukan langkahnya sendiri. Akan tetapi, pemikirannya tak pernah sama sekali lepas dari pengaruh Ficthe. Pada tahun 1798 dia mengajar di Universitas Jena pada usianya 23 tahun. Pada saat itu pula dia menjalin kontak dengan kalangan pengikut Romantisme. Tahun 1803 dia menikah dan pindah mengajar di kota Wurzburg. Pada saat inilah dia mulai mentaati masalah-masalah agama. Di kota Wurzburg, pada tahun 1806 dia pindah ke Munchen, dalam masa-masa inilah dia banyak berkontak dengan Hegel sehubungan dengan penyuntingan sebuah jurnal filsafat. Akan tetapi, Hegel kemudian menerbitkan bukunya Phanomenologie des Geistes, yang secara tegas meninggalkan Schelling secara intelektual. Hegel menjadi tandem beratnya.

Idealisme Schelling bertolak dari ketidaksetujuannya pada Ficthe. Pokok ketidaksetujuannya adalah proritas subjek atas objek, atau denagn kata lain, Ficthe mengunggulkan Aku murni atau Roh atas non-Aku  atau alam.  Menurut Schelling, dikotomi antara subjek dan objek itu terjadi karena refleksi. Refleksilah yang membedakan sesuatu yang berada di luar kita dan gambaran-gambaran yang kita tangkap. Refleksi juga memperlakukan gamabaran-gambaran itu sebagai objeknya. Dengan begitu, refleksi adalah pangkal pembedaan antara Roh dan alam, antara real dan yang ideal. Jika pangkal ini dihapus, menurut Ficthe, Roh dan Alam itu satu, atau dengan perkataan lain, manusia mengalami kesatuannya denagan alam. Akan tetapi, refleksilah yang membedakan manusia dari hewan yang selalu atau melulu emosional, atau dari kanak-kanak. Jika kita menjembatani jurang antara subjek dan objek itu dengan perasaan belaka, kita akan merosot. Kesatuan itu jangan dicari pada perasaan, melainkan pada tataran yang lebih tinggi yang dicapai lewat refleksi itu sendiri. Karena refleksi yang memunculkan dikotomi subjek dan objek, refleksi jugalah yang harus menghapusnya. Inilah alasan Schelling untuk menemukan kesatuan asali dari kenyataan denagan filsafat. Bukannya dengan perasaan yang diajarkan oleh Romantisisme.

Idealisme Schelling, masalah pokonya adalah korelasi subjek dan objek, Roh dan Alam. Kant menekankan peranan subjek dalam membentuk kenyataan secara a priori. Akibatanya Kant menghasilkan “das Ding an Sich” yang tidak dikenali itu. Bagi Schelling ini absurd, sebab menurutnya bagaiamana mungkin ada objek yang sama sekali terpisah dari subjek. Bahwa subjek memasukan sebuah kerangka a priopri tertentu pada kenyataan sudah menunjukan sebuah hubungan, pertanyaannya kenpa hubungan itu tidak diradikalkan?

Ficthe, di lain pihak, sudah menghapus ‘das Ding an Sich” itu, tetapi dia kemudian memprioritaskan subjek atas objek: roh menjadi utama atas alam. Untuk mengatasi dikotomi ini, menurut Schelling, kita melalui refleksi harus memperlihatkan bahwa Alam objektif itu merupakan sebuah system yang dinamis yang mengarah pada sesuatu tujuan tertentu (disebut “sistem teleologis”) yaitu kembali pada dirinya sendiri.

Kalau Alam dimengerti sebagai sistem teleologis, kita tidak bisa melukiskannya sebagai mekanisme belaka. Akan lebih tepat bila alam dilukiskan sebagai sebuah organisme yang hidup dan bergerak menuju ‘finalitas’ tertentu.

Alam atau Alam ideal yang terejewantahkan dalam alam material yang mengandung benda-benda khuss, istilah yang digunakan Schelling dari Spinoza dan Bruno adalah Natura naturans (kehidupan batianiah yang absolut vodca) sekarang terejawantahkan dalam  Natura naturata (Alam material). Alam material ini alam sebuah penampakan alam ideal yang ‘keluar dari yang absolut). Pada momen yang kedua, Yang absolut yang sudah menjadi objektivitas itu berubah menjadi Yang absolut sebagai subjektivitas. Dalam arti ini, natura naturata yang direpresentasikan dalam dan mealui pikiran manusia. Dalam pikiran manusia, alam material yang bersifat khusus itu diuniversalkan secara konseptual. Maka sebenarnya muncul sebuah alam ideal itu dalam pikiran manusia.

Georg Wilhelm Friedrich Hegel sang Tank Tiger

          “Realitas yang sebenarnya bukanlah sebuah materi yang diketahui itu ‘ada’, melainkan adalah sebuah perwujudan dari rasio yang absoulut.” Quotes of the day.

Dari kata-kata yang penulis tulis diatas setidaknya diharapkan dapat memberi pemahaman dalam filsafat idealisme Hegel yang akan segera dibahas.

Sekarang kita berada dalam alam pemikiran seorang filsuf besar dalam aliran idealisme, filsuf ini sekaligus menjadi puncak dari pemikiran spekulatif dalam filsafat. Ibarat Jerman dalam perang dunia II membuat sebuah tank ‘imba’ Tiger dan pada saat itu Hegel bak sebuah tank Tiger.  Ya mengapa harus tank Tiger? Kan masih ada tank lainnya. Ya karena tank Tiger adalah tank buatan Jerman yang ketangguhannya dikenal luas oleh public dunia. Jadi, Hegel adalah seorang Jerman yang membangun tubuh filsafatnya menjadi‒seperti sebuah tank yang kokoh‒yang pada gilirannya nanti filsafat idealisme Hegel ini mendapat serangan bertubi-tubi dari filsuf selanjutnya yang mencoba untuk meruntuhkan pemikiran spekulatif babon dari Hegel.

Lahir di kota Stuttgart, 27 Agustus 1770. Pada usia 18 tahun masuk universitas Tubingen untuk mempelajari teologi. Pada universitas ini dia berteman dengan Schelling dan Horderlin. Sejak muda Hegel sudah menaruh perhatian pada tank filsafat dan teologi, sampai dia beranggapan bahwa filsafat juga merupakan teologi dalam arti mencari dan menyelidiki sesuatu yang absolout. Dari sini sudah terlihat secara implisit bagaimana pertentangan dia dengan pandangan Immanuel Kant, walaupun beberapa saat lalu dia juga terkagum dengan Kant.

Hegel sangat terpesona dengan revolusi Prancis, dalam pandangannya revolusi Prancis adalah sebuah manifestasi dari gelora di hati kebebasan manusia. Sebab itu, dalam tubuh filsafatnya Hegel banyak mengambil tema kebebasan. Mengapa Hegel sangat tertarik dengan kebebasan? Nah, Jerman saat itu bukanlah Jerman yang sekarang, Jerman saat itu masih merupakan Negara yang penuh dengan orang-orang konservatif dalam agama dan pemerintahan yang bergaya monarki. Sehingga untuk sekedar berdiskusi untuk membangun sebuah diskursus pembebasan pun sangat sulit, ya iyalah. Sementara Jerman terkekang oleh pemikiran kolot, Inggris dan Prancis sudah lebih maju dalam ranah intelektual. Inilah yang menjadi dasar mengapa Hegel tertarik dengan tema kebebasan.

Idea Absoulut

Seperti yang sudah disinggung di muka, bahwa adalah idea yang merupakan sumber dari pengetahuan‒bukanlah materi atau sebuah obyek fisik bahkan sesuatu yang misterius seperti dalam filsafat Kant. Hegel juga menambahkan bahwa kenyataan adalah idea dan idea itu nyata. Tetapi idea yang seperti apa yang sesungguhnya memproduksi pengetahuan kita? Kita mempunyai pengalaman terhadap dunia‒yang mempunyai eksistensi independen dari manusia dan bukanlah sesuatu yang manusia bentuk. Jika semua obyek adalah produk dari idea, tetapi bukan idea manusia, maka diasumsikan bahwa itu ada sebuah produk dari idea ‘yang lain’ yang bukan merupakan idea dari yang-terbatas.

Sampai pada akhirnya Hegel dan para idealist yang lain membuat sebuah konklusi bahwa semua obyek dari pengetahuan dan bagaimanapun semua obyek dan bahkan seluruh semesta adalah produk dari sebuah subyek yang absoulut, idea yang absoulut. Pandangan tentang sebuah subyek sangat kental dalam pemikiran Hegel, dia menyebutkan sesuatu yang absoulut adalah suatu subyek dan bukanlah obyek dan tidak pada itu saja (Stumpf and Fieser, 2003).

Dialektika

Hegel dalam filsafatnya memakai sebuah konsep tentang dialektika, namun dialektika disini bukan digunakan untuk menjelaskan filsafatnya, melainkan untuk menegaskan bahwa kenyataan terbentuk melalui proses dialektika. Dalam dialektika terdapat tiga tahapan, pertama adalah tesis dimana seseorang mengajukan interpretasinya, kedua adalah antitesis dimana seseorang yang lain mencoba untuk membuat kritik terhadap tesis, dan ketiga adalah sintesis dimana terbentuk suatu premis baru yang berasal dari tesis dan antitesis. Kebenaran yang berada dalam tesis dan antitesis tetap dipertahankan, sehingga sintesis membawa tesis dan antitesis menjadi satu tingkat lebih tinggi. Berangkat dari dialektika tersebut, maka terdapat tiga tahapan dalam tubuh sistem filsafat Hegel, pertama adalah tahap idea, filsafat ini memahami sesuatu yang ada ‘pada dirinya’, kedua adalah tahap filsafat alam, filsafat ini memahami sesuatu yang ada ‘bagi dirinya’, dan ketiga adalah tahap filsafat roh, filsafat ini memahami yang ada ‘pada dirinya’ dan yang ada ‘bagi dirinya’.

Fenomenologi Roh

Sebelum membahas lebih lanjut tentang tiga tahapan dalam filsafat Hegel. Sebagai pengantar, fenomenolgi roh dirasa cukup penting sebagai pembuka diskusi setelahnya. Dalam karya ini Hegel menjelaskan bagaimana kesadaran manusia itu berkembang dalam proses dari tahap demi tahap (dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi). Karya fenomenologi Roh Hegel ini dianggap sebagai pengantar ke sistem filsafatnya.

Kesadaran manusia bagi Hegel merupakan pengenalan diri dari Yang absolut. Proses pengetahuan ini yang telah di insyafi oleh Hegel bahwa proses pengetahuan ini bertolak dari pengetahuan yang serba terbatas menuju ke pengetahuan absolut. Proses ini dilakukan dalam phanomenologie des Geistes (fenomenologi Roh) juga dalam tiga tahapan. Pada tahapan pertama dilukiskan bagaimana objek-objek pengindraan berdiri diluar subjek sehingga menghasilkan kesadaran. Pada tahap kedua, Hegel melukiskan bagaimana terjadinya kesadaran diri dan pada tahap ketiga, dalam kedua bentuk kesadaran itu mencapai sebuah sintesis yang disebut Rasio.

Pertama, kesadaran: Hegel bertolak dari apa yang disebutnya “kepastian indrawi”, bahwa kesadaran pada taraf yang paling rendah adalah suatu penginderaan atas objek-objek khusus. Rasa kepastian ini meskipun naif, meruapakan sebuah pengetahuan yang paling kaya tetapi, bukan lah sebuah pengetahuan yang sejati. Pencapaian sebuah pengetahuan sejati dia harus melampaui tahap persepsi belaka, karena kesadaran tidak sekedar menangkap fenomena melainkan terlebih sesuatu di balik yang fenomenal itu. Kedua, kesadaran diri: kesadaran diri yang paling rendah yakni hasrat (sikap penguasaan atau pemuasan kepentingannya). Kesadaran yang paling tinggi adalah ke-Kini-an ke-Kita-an atau kesadaran sosisal. Hegel menjelaskan bahwa ke-Kita-an ini dapat dicapai melalui kontradiksi. Ketiga, Rasio: pada tahap ini kontradiksi diatas dapat diatasi yang adalah sintesis antara “kesadaran“ dan “kesadaran diri” sehingga muncul kesadaran universalitas. Universalitas, kesadaran itu, tak lain daripada Roh itu sendiri yang sadar diri. Hegel menunjuk kesadaran moral yang tampil dalam aneka intuisi sosial merupakan bentuk sintesis yang kurang sempurna. Lalu dalam kesadaran religiuslah, sintesis itu benar-benar tercapai. Dalam tahapan ini Roh absolut mengenal dirinya dalam bersenggama beragama.

Logika

Logika dalam filsafat ini, bukanlah suatu cara berpikir diluar metafisika, melainkan logika adalah metafisika itu sendiri. Maksudnya, logika digunakan manusia untuk menalar realita, realita adalah yang absoulut, sebab inilah yang membuat logika adalah sebuah metafisika. Berbeda dengan Kant yang menggunakan logika transendental, yang didalamnya ditemukan kategori akal budi. Hegel membuat logika imanen, dalam arti logika ini berada dalam alam untuk memahami hakikat yang absoulut.

Logika ini pun tak luput dari tiga tahapan dialektika, tahap pertama ketika logika ingin memahami realita, logika ini disebut ‘logika ada’. Realita adalah ‘ada’ yang absoulut, namun ‘ada’ disini baru bisa dipahami jika dan hanya jika ‘tiada’. Dari tesis dan antitesis tersebut didapatkan sintesis sesuatu yang ‘menjadi’, artinya pemahaman absoulut sebagai yang ‘ada’ adalah absoulut yang ‘menjadi’. Tahap kedua ketika logika ingin memahami suatu hakikat, logika ini disesbut ‘logika hakikat’. Artinya logika ini adalah logika yang berupaya untuk memahami kesadaran (berdasarkan Hegel, kesadaran adalah roh yang memahami dirinya). Dalam mencapai kesadaran terdapat kategori hakikat dan kategori daya, hakikat adalah sesusatu yang berada dibelakang realitas dan daya adalah ekspresi dari realita. Kategori hakikat disini adalah kesadaran akan yang absoulut sebagai sebab tunggal dari realita. Yang pada gilirannya nanti kategori daya menjadi tesis dan kategori hakikat menjadi antitesis. Tahap ketiga, tahap dimana kategori hakikat dan kategori daya membentuk suatu sintesis yaitu kategori konsep. Jika kategori daya dapat ditangkap tanpa adanya mediasi sedangkan kategori hakikat memerlukan mediasi dalam pemahamannya. Maka akan membentuk suatu kenyataan yang akan memahami dirinya sendiri tanpa memerlukan mediasi. Sebab itulah, logika konsep berarti yang absoulut atau realitas bersifat independen dalam memahami dirinya sendiri (Hardiman, 2007).

Filsafat Alam

Dalam filsafat alamnya Hegel Yang absolut telah mengasingkan diri dalam alam. Sehingga alam tidak lain daripada aleanasi diri. Alam adalah Roh absolut yang belum sadar diri, maka tak ada kebebasan dalam alam.

Alam merupakan tahap dalam kehidupan Yang absolut sendiri, yaitu tahap eksternalitasnya. Di dalam filsafat alamnya Hegel ini sedikit mendapati masalah yang mendasar. Di satu pihak Hegel tak setuju kalau alam disamakan dengan Yang absolut. Dipihak lain dari sudut idealitisnya alam objektif tak terlepas dari Yang absolut. Disisni cukup ditunjukan bahwa kesulitan Hegel ini bersumber dari pendirian idealistisnya bahwa yang nyata (real) itu rasional dan yang rasional itu yang nyata (real). Artinya, alam bagaimanapun itu ideal tidak material. Yang merupakan realitas yang sungguh-sungguh adalah yang ideal (Hardiman, 2007).

Filsafat Roh

Pertama, sudah dijelaskan tentang bagaimana logika memberikan kesadaran, kedua, bagaimana alam mengalienasikan diri untuk memberi pengetahuan bahwa yang absoulut itu ada dan yang ketiga ini adalah bagaimana yang absoulut itu dapat mengenali dirinya, menjadi sesuatu yang ‘pada dan bagi dirinya’. Dalam filsafat roh ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Roh Subyektif

Dalam roh subyektif, Hegel menguraikannya menjadi tiga tahap. Pertama, dimana adanya suatu peralihan dari alam menuju roh. Peralihan ini terjadi dalam ‘jiwa’ manusia dan jiwa disini adalah subyek yang ‘merasakan’. Tahap kedua adalah tentang ‘kesadaran’, dan tahap ketiga adalah tentang ‘idea subyektif’.

 

 

  1. Roh Obyektif

Dalam bagian ini, roh sudah mengobyektifikasi diri dalam kehidupan sosial. Pun tak luput dari tiga tahap, pertama adalah tentang ‘hak’, kedua adalah tentang ‘kontrak’ dan ketiga adalah tentang ‘moralitas’.

  1. Roh Absoulut

Setelah melewati bagian roh subyektif dan roh obyektif, sekarang kita mulai memasuki bagian terakhir, yaitu roh absoulut. Jika pada roh subyektif, roh dipandang sebagai ‘pada dirinya’ dan pada roh obyektif roh dipandang sebagai ‘bagi dirinya’. Maka, pada bagian ini roh dipandang menyeluruh sebagai ‘pada dan bagi dirinya’, sebuah totalitas yang sudah menyadari dirinya sendiri.

Dari segi epistemologisnya, Roh absolut adalah Roh pada taraf pengatahuan absolut yang dijelaskan Hegel pada Fenomenologi Roh. Tetapi dari segi metafisis, dia adalah Yang absolut sendiri. Jadi, bagi Hegel Yang absolut adalah pengatuhan absolut. Karena pengetahuan didasari oleh manusia, tetapi bukan berarti bahwa manusia itu absolut, melainkan Yang absolut itu menyadari dirinya sendiri sebagai Roh yang memikirkan dirinya melalui Roh manusia (individu memiliki kesadaran yang berbeda dari kesadaran diri individu yang lain).

Hegel menambahkan bahwa roh absoulut dapat dipahami dari tiga bentuk pengetahuan, pertama pengetahuan tentang keindahan (estetika), kedua pengetahuan tentang religius (agama), dan ketiga pengetahuan tentang spekulasi (filsafat). Ketiga pengetahuan ini saling berdialektis, dimulai dari estetika sebagai tesis, agama sebagai antitesis sehingga menciptakan filsafat sebagai sintesis. Filsafat disini dipahami sebagai filsafat yang menalar filsafat, Hegel dengan dialektika idealistisnya mencoba memahami perjalanan sejarah filsafat. Sampai pada tahap ini, dia mengklaim bahwa filsafatnya ada sebuah sintesis atau akhir dari perjalanan filsafat (Hardiman, 2007).

 

DAFTAR PUSTAKA

Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Modern Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Stumpf, Samuel Enoch & James Fieser. 2003. Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy 7th Ed. McGraw-Hill. New York.

Advertisements