Oleh: Adinda Nurrizki dan Fini Rubianti[1]

Ada sebuah refleksi penting ketika mengamati serangkaian manifestasi yang timbul dari Rasionalisme. Dalam realita kekinian, dunia terkodifikasi menjadi dua sumber utama: modal dan pasar. Manusia sebagai entitas yang luhur dari alam, kemudian dijadikan ‘alat’ pemenuh keuntungan. Rasionalisme (sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya) tidak memperhitungkan aspek kawan atau lawan, teman atau sabahat, mantan pacar atau gebetan. Yang menjadi sandaran hanyalah kalkulasi untung rugi. Sejauh mana aksi dapat memberikan keuntungan bagi subjek? Seberapa besar pilihan yang kita ambil memberi kepuasan batin? Serangkaian pertanyaan ini (tanpa harus dijabarkan terlalu luas lagi) kemudian ditepis oleh aliran Romantisisme, tepatnya dimulai sejak tahun 1770-an sampai awal abad ke 19 (Hardiman 2007:113).

Jujur, tidak mudah membuat sebuah peta asumsi yang jelas dan terpilah (clear and distinct) bagi Romantisisme. Pun tokoh pencetusnya Jean Jacques Rousseau (1712-1778) dinilai sebagai seseorang yang inkonsisten nan kontroversial dalam berdialektika. Rousseau dipahami sebagai tokoh Kolektivisme tetapi Individualisme, seorang pendukung Liberalisme namun juga lekat dengan Totalitarianisme (Macfarlane 1970:12 dalam Suhelmi 2007:237). Di samping itu, ia dikenal sebagai seseorang yang perasaannya mudah tergugah, emosional dan curiga akan sesuatu. Jika merujuk pada istilah anak zaman sekarang, Rousseau termasuk dalam kategori filsuf yang labil (dalam artian postif tentunya).

Namun, berangkat dari keterkondisian di atas, kiranya tidak terlampau sempit jika kita menempatkan Romantisisme sebagai respon (counter ideas) atas kondisi dan implikasi yang timbul pada Abad Pencerahan. Dengan kata lain, Romantisisme yang diprakarsai oleh Rousseau bukanlah sebuah gerakan sistemik seperti halnya Luther atau Calvin merealisasikan idenya. Ia juga tidak dapat disejajarkan dengan kronologis kemunculan Empirisme dalam menggelontorkan ide-ide manuvernya atas rasio. Secara singkat, Romantisisme dapat dianalogikan sebagai pedal rem yang berfungsi untuk merefleksikan laju kendaraan Rasionalisme yang semangat dan confidencenya di luar kendali. Uniknya, Romantisisme tidak menelanjangi kondisi pengagungan atas rasio melalui pandangan teologis atau hal-hal metafisik. Mengutip F. Budi Hardiman (2007:121), Romantisisme melontarkan kritiknya melalui kemajuan yang dilihat dan diyakini kala itu.

Sekilas tentang JeanJacques Rousseau

Kaum Romantisisme dinilai senang dengan kehidupan yang sederhana. Mereka lebih suka hidup di sebuah kota yang jauh dari hiruk-pikuk dan kebisingan. Berkaca pada si-empunya perspektif, Rousseau sendiri lahir di Jenewa pada tanggal 28 Juni 1712, sebuah kota di Swiss yang tenang dan dikelilingi oleh lembah-lembah, gunung serta hutan lebat. Jenewa digambarkan sebagai kota yang lingkungan ekologinya bersih, belum terpolusi serta warga negaranya tertib (Suhelmi 2007:239-240). Tulisan ini menilai, bukanlah sebuah kebetulan jika ada keterkaitan antara tempat Rousseau besar dengan pemikiran-pemikirannya mengenai Romantisisme kala itu.

Rousseau merupakan anak dari pasangan Isaac Rousseau dan Suzanne Bernard. Ayahnya merupakan seorang pembuat jam, sedangkan ibunya meninggal beberapa hari setelah Rousseau lahir. Sebelum menjadi filsuf terkenal, Rousseau sempat bekerja paruh waktu sebagai pengukir pada tahun 1725. Setelah tiga tahun kemudian, Rousseau meninggalkan Jenewa ke Annecy (sebuah kota di Prancis). Rousseau juga pernah beberapa kali bekerja sebagai guru dan sekretaris.

Dibesarkan oleh keluarganya dari usia muda, Rousseau menjadi pengembara sastra, seorang pria yang orisinal, liar dan memiliki emosi yang tidak stabil. Dia juga berakhir dengan memerangi orang-orang penting dalam hidupnya yang ia anggap sebagai pengkhianat. Dalam istilah modern, Rousseau bahkan dijuluki sebagai “pria yang tersakiti di sepanjang hidupnya dan setengah gila”. Namun, Rousseau memiliki gaya sastra yang indah. Ia menulis buku yang selalu menarik antusiasme masyarakat pada saat itu. Dalam novel dan tulisan politiknya, selalu ada asumsi Romantik dan nilai yang menggambarkan gubahannya (Gairdner 1999:83-84)

Rousseau pindah ke Paris pada  tahun 1742 dan bertemu Denis Diderot[2]. Ia bekerja sebagai kontributor di Encyclopedia, sebuah majalah yang dianggap radikal pada masa itu. Rousseau pernah berencana menjadi seorang komposer. Ia bahkan sempat memperkenalkan sistem notasi baru yang sayangnya ditolak di Academie de Science[3]. Hal tersebut tak mengurangi semangatnya untuk menulis lagu. Hingga akhirnya Rousseau pernah membuat operanya sendiri yang berjudul Les Muses Galanter dan menjadi tenar setelah dibanjiri pujian.

Rousseau kemudian mulai bekerja sebagai filsuf pada tahun 1750. Di sinilah Rousseau akhirnya mengutarakan ide bahwa seni dan ilmu pengetahuan memiliki efek memurnikan moral yang rusak. Idenya berangkat dari pemikiran terkait peradaban saat itu. Ia menilai bahwa peradaban adalah sejarah yang “rusak”, bukan kemajuan. Alam adalah baik, sementara peradaban adalah buruk. Rasionalisme adalah pencapaian manusia untuk mengendalikan alam, berikut yang Rousseau sampaikan.  Pada tahun 1772, Rousseau menyelesaikan tugas politiknya: merancang konstitusi baru untuk Polandia. Akhirnya Rousseau pun meninggal pada tahun 1778 saat gejolak di Prancis meletus (Jean-Jacques Rousseau – Biography:  http//www.egs.edu ).

 

Alam Pemikiran Rousseau: Kondisi Alamiah dan Kontrak Sosial

            Meski masih menjadi perdebatan apakah kondisi alamiah dan kontrak sosial ini masuk dalam asumsi-asumsi Romantisme, namun dirasa kurang jika tidak dimasukkan dalam tulisan ini. Di samping itu, Rousseau sendiri dikenal sebagai pencetus ide yang brilian dalam mengajukan konsep terbentuknya negara. Dalam menyelami pola pikir Rousseau, sebelum masuk ke dalam sendi-sendi bernegara, ia mengajukan sebuah premis dengan apa yang disebut sebagai kondisi alamiah. Beberapa ilmuan menyepakati bahwa kondisi alamiah dipahami sebagai kondisi sebelum terbentuknya negara. Pada aspek ini, Rousseau menyatakan bahwa manusia merupakan entitas yang merdeka. Manusia adalah makhluk yang bebas. Bagi Rousseau, bebas yang dikategorikan di sini ialah manusia tidak merasa khawatir akan eksistensi yang mungkin mengancam dirinya. Manusia bebas berkehendak sesuai dengan naluri masing-masing.

Berbeda dengan Hobbes atau Locke, Rousseau tidak memetakan sebuah label yang baku bagi manusia, apakah ia jahat atau baik. Menurut Rousseau, manusia tidak baik ataupun tidak buruk. Artinya, tidak ada generalisir tunggal bagi manusia. Manusia digerakkan oleh naluri alamiahnya. Namun demikian, Rousseau tidak menafikan bahwa indikator-indikator ideal bagi manusia sejatinya tidak pernah ada. Kondisi lingkungan, strata sosial dan interaksi manusia menyebabkan probabilitas untuk berlaku buruk selalu terbuka. Itulah sebabnya, Rousseau menggelontorkan sebuah ide bahwa kondisi manusia yang demikian ini, perlu diatur oleh sebuah institusi formal. Kini, kita kenal itu dengan sebutan negara. Proses terbentuknya negara, dalam imaji Rousseau merupakan sebuah produk perjanjian sosial atau sejatinya familiar dengan gagasan kontrak sosial.

Kontrak sosial merupakan sebuah kesepakatan antara negara dan rakyat untuk saling mengamankan serta menguntungkan satu sama lain. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Rousseau melihat kecenderungan bahwa manusia juga memiliki watak untuk saling berkonflik, menghancurkan eksistensi manusia lain entah dalam bentuk perang, aneksasi, okupasi, bahkan kekuasaan. Kondisi ini jelas tidak menguntungkan bagi manusia. Mereka membutuhkan negara sebagai otoritas tertinggi untuk mengatur manusia di dalamnya. Rousseau menekankan, hendaknya manusia tunduk pada hukum, namun tidak tunduk kepada si pembuat hukum. Dalam mekanisme yang lebih rigid, kontrak sosial pada prinsipnya merupakan sebuah kondisi di mana rakyat menyatakan loyal terhadap negara. Dengan kata lain, rakyat setuju (baik secara langsung atau tidak) menyerahkan sebagian haknya untuk diatur oleh negara. Menurut Rousseau, pun jika rakyat telah menyerahkan sebagian hak yang secara alamiah dimilikinya, hal itu tidak lantas menyebabkan rakyat terkuras hak-haknya. Partisipasi rakyat dalam politik dapat menjelma dalam bentuk civil society, organisasi, komunitas, atau kelompok-kelompok lain yang fungsinya untuk kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Rakyat membutuhkan sebuah kondisi non-anarki untuk tetap exist, maka perlu adanya sebagian penyerahan hak atau otoritas kepada institusi yang telah terlegitimasi, yaitu negara.

Namun, pada prakteknya, prinsip kontrak sosial ini bukan berarti aman kritik. Rizal Malarangeng (2010) dalam kumpulan esai Dari Langit turut mengkritisi ide kontrak sosial yang digagas Rousseau. Berangkat dari kalimat pembuka karya Rousseau, “The Social Contract”, yakni: “Manusia terlahir bebas, dan di mana pun ia terkekang”, Rousseau mengutarakan pernyataan yang dinilai paling modern di masa itu. Baginya, semua rezim politik yang ada tidak sah. Dalam asumsi Rizal Malarangeng (2010), Rousseau telah menawarkan pedang untuk memenggal otoritas kekuasaan tradisional.

Kontrak Sosial milik Rousseau ini cenderung totalitarian. Rousseau menganjurkan “asosiasi politik” di mana tiap anggotanya harus menyerahkan diri pada komunitas itu, namun di saat yang bersamaan juga harus menaati diri sendiri serta otentik. Menurutnya, bentuk asosiasi ini menyelamatkan manusia untuk mendapatkan kebebasan sipilnya. Ide Rousseau ini juga sempat ditentang oleh beberapa pemuka. Robert Nisbet (1973), misalnya. Ia mengatakan bahwa komunitas politik rancangan Rosseau ini tak lain hanya merupakan “kerajaan modern”. Mereka bahkan bisa dengan bebas menyalahgunakan kekuasaan politiknya atas nama kehendak hukum. Kemudian Sir Henry Sumner Raine (1886) juga mengatakan bahwa kehendak umum Rousseau “tidak lebih daripada hak ilahiah lama sang raja dalam bentuk baru”.

Namun tetap saja, Rousseau memberikan dasar komunitas politik yang lebih demokratis. Baginya, manusia bebas ketika mereka menaati hukum, bukan manusia. Hukum menurut Rousseau ini adalah pelaksanaan dari kehendak umum, yakni berasal dari rakyat dan semangat rakyat. Hukum yang demikian tidak pernah tidak adil menurut Rousseau, karena rakyat tidak pernah adil kepada diri mereka sendiri. Kekuasaan yang sah menurut Rousseau adalah turunan dari keturunan rakyat. Dengan populisme romantik ini, Rousseau mendelegitimasi raja dan rezim-rezim lama. Namun Rousseau menegaskan bahwa kehendak umum ini hanya dapat disingkap jika tiap individu mengasingkan dirinya dari orang lain dan menyisihkan semua kepentingan pribadinya. Setelah disingkap dari “suara hati yang murni”, barulah ia berdaulat. (Rizal Malarangeng 2010:110).

 

Romantisisme vis-a-vis Rasionalisme Beserta Klannya

Jika tadi merujuk pada pola gagasan Rousseau, kini kita akan selami satu jengkal sedikit, apa dan bagaimana Romantisisme. Senada dengan asal katanya (dalam bahasa Inggris kita kenal Romantic atau Romance), ia merupakan perspektif yang mengutamakan unsur emosi dan perasaan dalam melihat fenomena yang ditangkap oleh indra. Kepekaan yang diproses oleh nalar manusia digunakan sebagai alat utama. Pada interpretasinya yang lebih dalam, Romantisisme menggunakan unsur-unsur keindahan dan nilai-nilai abstrak ketika memandang sebuah hal. Maka, tidak heran jika manifestasi kaum Romantis dituangkan dalam seni dan sastra. Sebab, seni dan sastra dinilai sebagai tingkat ekspresi terbaik manusia. Ia tidak didistorsi oleh sistem, keuntungan, atau kepentingan lain di luar kemerdekaan si pembuat karya. Meminjam premis Rousseau, seni dan sastra digerakkan oleh naluri alamiah sang maestro yang mencipta (Romantic Era: http://www.csun.edu).

Pada pergulatan intelektualnya, Romantisisme menjelma sebagai respon, maka tidak mungkin memahami asumsi dasar Romantisisme sebagai sebuah variabel tunggal. Terkesan egois memang, ia harus selalu disandingkan dengan kata kunci semisal Rasionalisme, modernitas, rasio dan embel-embel lainnya yang lekat dengan semangat zaman pencerahan. Dalam interpretasi yang lebih jauh, Kompridis.ed,. (2006:3) pada bukunya Philospohical Romanticism, Romantisisme dianggap sebagai The Enlighment of Modernity (Pencerah akan Modernitas) yang tidak hanya menempatkan modernitas sebagai sebuah masalah utama, namun penyebab dari kondisi de-humanisasi atas masyarakat. Romantisisme mempertanyakan kehadiran modernitas dengan tangkas: “di bawah kondisi dan dalam bentuk seperti apa, nilai-nilai dalam Modernisme dapat exist tanpa harus mengganggu bahkan menghilangkan eksistensi subjek lainnya?”. Lebih sederhana, modernitas yang disandarkan pada Rasionalisme menjelma dalam bentuk yang profitable (jika ditarik ke dalam salah satu aspek ekonomi) namun seringkali memenangkan pihak/kaum yang satu, terhadap kaum yang lain.

Kasus yang lebih riil misalnya, praktik-praktik industrialisasi yang dicita-citakan sebagai salah satu upaya menaikkan taraf hidup masyarakat, bukanlah tanpa resiko. Pendirian pabrik, tempat perbelanjaan, gedung atau sarana transportasi turut menimbulkan implikasi yang patut diperhatikan seperti: kerusakan alam, penggusuran rumah warga, degradasi moral, dsb. Nampaknya, Romantisisme memainkan peran di sini. Ia mempertanyakan dampak yang timbul dari fenomena modernitas atau lebih mendasar: manifestasi rasio.

 

Quo Vadis Romantisisme?

            Pada perkembangannya sendiri, pemikiran Romantisisme yang diletupkan oleh Rousseau ini turut mengilhami sejumlah tokoh lainnya, terutama di Inggris dan Jerman. Lockridge (1989) menyatakan bahwa aliran Romantisme lebih banyak diilhami oleh para sastrawan (literary figure) dibandingkan para filosof. Di Inggris sendiri, Romantisisme yang berkembang sedikit banyak memasukkan unsur moralitas dalam beberapa karya sastra. Sebut saja, William Wordsworth (1770-1850), Percy Bysshe Shelley (1792-1822), William Blake (1757-1827) dan Lord Byron (1788-1824). Karya-karya mereka sarat akan pesan moral dan kritik sosial yang tertuang dalam novel, prosa atau puisi. Wordsworth termahsyur dengan tiga karyanya yang berorientasi dengan alam, diantaranya: The Redemptive Power of Nature, The Idea of Nature Sympathy with Humankind dan Who Close to Nature also Close with God. Shelley dikenal dengan karyanya yang berjudul Speculation on Morals sedangkan Byron banyak menulis puisi-puisi yang berorientasi pada immortality, individualism, idealist dan flamboyant.

Sama halnya dengan Inggris, aliran Romantisisme mendapat afirmasi yang baik di Jerman. Sebut saja, Friedrich Van Schelling dan Johann Wolfgang von Goethe merupakan beberapa tokoh yang banyak mengilhami Romantisisme. Baik Goethe maupun Schelling, mereka banyak menulis puisi dan esai pada karya-karyanya dibanding mengajukan gagasan yang filosofis. Tersebut Goethe menulis lebih dari 100.000 puisi yang banyak mengolah tema-tema tragedi kehidupan, serta naluri manusia yang mengistimewakan alam atas peradaban. Di lain pihak, Schelling juga mencecap Romantisisme sebagai nostalgia yang mendalam akan kemajuan di Eropa. Schelling banyak menyinggung soal kerinduan yang kuat akan masa lalu ideal dan dicita-citakan. Harapan akan sebuah kondisi di mana alam kemudian membentuk sebuah interaksi manusia yang unggul dan bebas, tidak pernah dikekang oleh sistem atau subjek apapun (Dupre 2009:198). Bagi sebagian pemikir seperti Frank dan Zaibert (2008:7), ambisiusme perasaan yang kuat terhadap kejayaan masa lalu ini turut mengilhami akan munculnya Nazisme di Jerman pada tahun 1933-1945, atau bisa kita sebut sebagai titik Romantisisme yang paling ekstrem.

 

Sebuah Kritik bagi Sang Maestro Romantis

Romantisisme muncul sebagai respon terhadap masa Abad Pencerahan, di mana “pengagungan” rasio saat itu tengah berlangsung dan di luar kendali. Ia muncul untuk mengkritisi adanya subjek yang eksistensinya terganggu akibat Abad Pencerahan. Namun sebuah pertanyaan bisa digelontorkan, apakah Romantisisme sendiri mampu mengangkat dan memenangkan subjek ini? Seperti apa tolak ukur yang dipakai Romantisisme untuk mengatakan bahwa sebuah subjek telah dikatakan menang? Terlebih jika kaum Romantis hanya menuangkannya dalam seni dan sastra.

Terkait kondisi alamiah dan Kontrak Sosial, beberapa telah dipaparkan dalam pembahasan bahwa ide ini telah mendapat banyak kritik dari berbagai pihak. Tulisan ini menilai bahwa asosiasi politik yang ditawarkan Rousseau tak lain hanyalah “model lama yang diperbarui” atau “kerajaan yang lebih modern”. Mereka juga bisa menyalahgunakan kekuasaan. Seperti yang diyakini Rousseau: manusia adalah entitas yang bebas, maka bukan tidak mungkin mereka bisa berperilaku buruk.

Rousseau juga mengatakan bahwa kehendak umum dapat disingkap oleh mereka yang mengasingkan dirinya dari kepentingan pribadinya. Ini juga sedikit kontradiksi dengan keyakinannya bahwa manusia dilahirkan bebas. Setiap mereka yang bisa mengasingkan diri dari kepentingan pribadi, bisa berdaulat. Ini artinya, orang juga dipaksa tunduk terhadap mereka yang berdaulat. Beberapa pertanyaan juga bisa diajukan, bagaimana kita bisa tahu orang-orang ini bisa terlepas dari  keinginan pribadinya, tanpa ada pengaruh dari orang lain? Bagaimana kita dapat meyakini bahwa kehendak umum ini merupakan opini mereka tentang persoalan umum, bukan iming-iming dari orang lain? Di sinilah Rousseau tidak menjelaskannya lebih dalam. Bagaimanapun, ide Rousseau ini merupakan optimismenya terhadap politik. Pedang Rousseau memang memenggal otoritas tradisional, namun bukan tidak mungkin pedangnya ini memenggal rakyat sendiri, menindas, atas nama kehendak rakyat.

 

Referensi

Dupre, Ben. 2009. 50 Big Ideas You Really Need to Know. London: Quercus Publishing Ltd

Frank, Manfred dan Elizabeth Millan Zaibert. 2008. The Philosophical Foundations of Early German Romanticism. New York: State University of New York Press

Gairdner, William. 1999. Jean-Jacques Rousseau and the romantic roots of Modern Democracy. _:_

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern. 2007. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Malarangeng, Rizal. 2010. Dari Langit: Kumpulan Esai tentang Manusia, Masyarakat dan Kekuasaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Jean-Jacques Rousseau – Biography: dari  http//www.egs.edu , akses tanggal 20 Oktober 2015 pukul 19.08 WIB

Kompridis, Nikolas,ed. _ Philosophical Romanticism. London: Routlegde

Lockridge, Laurence S. 1989. The Ethics of Romanticism. Cambridge: Cambridge University Press

Romantic Era: dari http://www.csun.edu , akses tanggal 22 Oktober 2015 pukul 12.05 WIB

Suhelmi, Ahmad. 2007. Pemikiran Politik Barat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

[1] Essay dibuat sebagai bahan diskusi Lingkar Studi Tangerang Selatan (LiNTAS) pada Jumat, tanggal 23 Oktober 2015 pukul 20.00 WIB

[2] Denis Diderot merupakan seorang Filsuf Abad Pencerahan Prancis pada abad ke-18. Penemuannya terhadap kodifikasi referensi dalam bidang ensiklopedia, membuatnya dijuluki sebagai Bapak Ensiklopedia di Prancis

[3] Academie de Science merupakan sebuah institut akademik Prancis yang dibentuk pada tahun 1666 oleh Louis XIV

Advertisements