Ryan M. Hidayat dan Gian E. Silitonga

 

Awal Mula Zaman Pertengahan

Banyak masyarakat awam yang belum memahami betul apa itu zaman kegelapan atau lebih dikenal zaman pertengahan. Masyarakat awam hanya mengetahui, zaman pertengahan adalah zaman pedang, Kerajaan, Naga atau bahkan Vlad Drakula. Padahal sebetulnya, zaman pertengahan bukan hanya hal-hal yang bersifat legenda seperti dongeng sebelum tidur. Melainkan zaman pertengahan merupakan sebuah perubahan besar bagi kelangsungan peradaban Eropa. Awal mula perubahan ini adalah saat Romawi berada dibawah pimpinan Kaisar Konstantinus, di mana agama Kristen menjadi sebuah agama resmi di Romawi. Kaisar Konstantinus sendiri menganut agama Kristen berawal ketika dia sedang beristirahat dibawah  pohon di luar kota Roma dalam perang Ponte Milvius, dia melihat sebuah tanda salib dan mendengar bisikan yang berkata “In Hoc Signo Vinces” yang mempunyai arti “dalam Tanda ini, maka engkau menang”. Sebelumnya keberadaan geraja sangat dilarang di Romawi terutama pada masa Kaisar Nero, namun setelah Kaisar Konstantinus menganut agama Kristen, keran yang tertutup mulai terbuka ditandai dengan pembangunan gereja-gereja di seluruh wilayah Roma dan pada tahun 380 M agama Kristen menjadi agama resmi di seluruh Kekaisaran Romawi. Walaupun tak lama setelah itu Roma mendapat serangan dari bangsa Visigoth yang dipimpin oleh Alaric.

Pada tahun 330 M Kaisar Konstantinus memindahkan ibukota Kekaisaran dari Roma ke Konstatinopel. Setelahnya sekitar tahun 395 M Kekaisaran Romawi terbagi menjadi dua bagian, bagian barat dimana Roma menjadi ibukotanya dan bagian timur dimana Konstantinopel menjadi ibukotanya. Akhirnya pada tahun 410 Roma direbut oleh bangsa Visigoth dan tahun 476 M Kekaisaran barat runtuh. Namun yang menjadi unik adalah bahwa Vatikan (pusat keagamaan) tidak disentuh yang membuat ajaran agama Kristen tetap berlanjut, bahkan bangsa Visigoth yang menduduki Roma pun akhirnya menganut agama Kristen. Pun secara politik Kekaisaran Romawi barat telah runtuh, tetapi Uskup Romawi atau “Paus” saat itu menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, maka dari itu Roma menjadi ibukota Kristen Katolik sepanjang zaman pertengahan. Mari kita kembali ke bagian dimana keran agama mulai terbuka, saat Kekaisaran barat diduduki oleh bangsa Visigoth dari utara, gereja sudah mulai menunjukan dirinya sebagai pemegang kekuasaan kedua setelah Kaisar. Ditandai pada tahun 529 M Akademi Plato ditutup oleh gereja dan setelahnya filsafat Yunani dilarang oleh gereja. Sejak itu, gereja memonopoli pendidikan, perenungan, dan yoga (meditasi). Semua berubah menjadi sekolah-sekolah keagamaan (pesantren).

Mulai dari sini kebudayaan terpecah menjadi tiga, pertama adalah kebudayaan Kristen Katolik di Eropa Barat, kedua adalah kebudayaan Kristen Byzantium di Eropa Timur dan Asia kecil, dan ketiga adalah kebudayaan Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara. Perlu diketahui bahwa bangsa Arab saat itu mengambil alih kota warisan Helenistik, yaitu Alexandria. Maka dari itu, mereka mewarisi beberapa ajaran filsafat Yunani, bahkan dalam bidang ilmu pengetahuan seperti MIPA, kedokteran dan astronomi pun mereka lebih maju ketimbang dua kebudayaan lainnya, sebut saja nama seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Artinya, ketika Uskup-uskup Kristen menutup diri dari ajaran-ajaran filsafat Yunani kuno, para pemimpin umat Islam saat itu membuka diri terhadap ajaran-ajaran filsafat Yunani kuno yang membuat agama Islam lebih maju dalam berbagai hal. Seperti sebuah adagium yang berbunyi “ketika Bangsa Eropa masih menyembah dewa atau Roh Kudus untuk menyembuhkan penyakit, Bangsa Arab sudah menemukan metode pengobatan dalam menyembuhkan suatu penyakit”.

Tokoh Pemikir Zaman Pertengahan

St. Agustine (Awal Zaman Pertengahan)

Sekarang kita masuk ke dalam tokoh-tokoh pemikir yang ada pada zaman Pertengahan. Pertama, kita akan berjumpa dengan St. Agustine, hidup dari 354 sampai 430M. Dia lahir di kota kecil Tagaste di Afrika Utara. Dari dia kita dapat mengamati transisi aktual dari zaman Yunani kuno menuju Awal Zaman Pertengahan. Agustin sangat prihatin dengan nasib hidupnya dan kekuatan inilah yang mendorong setiap aktivitas filosofisnya. Sewaktu kecil dia mengalami penderitaan  mendalam dari sebuah kekacauan moral, yang mana kemudian menjadi sebuah pencarian panjang olehnya untuk mencapai kebijaksanaan dan kedamaian spiritual.

Agustin tidak lahir dari seorang Kristen namun kebudayaan Kristen sangat kental disekelilingnya. Sepanjang perjalanannya dia banyak mempelajari berbagai agama dan filsafat yang berbeda-beda. Pada usia 16 tahun, dia memulai pembelajaran retorika di Carthago, kehausan dia akan ilmu pengetahuan telah mendorongnya untuk belajar dengan tekun, sehingga dia menjadi murid yang sukses di sekolahnya. Pengalaman pribadi telah membuatnya mendekatkan diri ke filsafat, di usia 19 tahun dia membaca Hortensius dari Cicero, dari buku tersebut dia merasa terdesak untuk memperdalam ajaran-ajaran filsafat. Agustin tidak merasa puas dengan beberapa ajaran Kristen yang dia temui. Terkadang dia bingung dengan permasalahan moral jahat atau sering dibilang bisikan setan. Dia bertanya “Bagaimana bisa kita menjelaskan eksistensi kejahatan dalam pengalaman manusia?” dalam agama Kristen dijelaskan bahwa Tuhan adalah pencipta segalanya dan Tuhan itu baik. Lalu pertanyaan selanjutnya “Bagaimana mungkin kejahatan untuk muncul dalam sebuah dunia yang sempurna ciptaan Tuhan?”. Agustin tidak menemukan jawaban dari pertanyaannya tersebut dari agama Kristen, akhirnya dia bergabung kedalam sebuah kelompok Manichaean.

Sedikit penjelasan tentang Manichaean, Manichaean adalah sebuah sekte keagamaan yang sangat simpatik dengan ajaran-ajaran Kristen, tetapi mereka menyombongkan diri dengan tingkat intelektualitas mereka yang tinggi, menolak ajaran dasar monoteisme dari perjanjian lama serta pandangan tentang pencipta dan penebus (maut) umat manusia adalah satu dan sama.  Manichaean mengajarkan teori dualisme, berdasarkan asas dasar dalam alam semesta: pertama, asas cahaya atau kebaikan dan kedua, asas kegelapan atau kejahatan. Dua asas ini akan ada selamanya dan juga selamanya akan saling bernegasi. Kemudian oleh Manichaean, dua asas ini dicerminkan ke dalam kehidupan manusia menjadi negasi antara jiwa sebagai kebaikan dan raga sebagai kejahatan (Stumpf dan Fieser, 2003: 126).

Awalnya teori dualisme ini seperti menjawab pertanyaan Agustin tentang kejahatan yang muncul dalam dunia sempurna ciptaan Tuhan. Namun, ini menimbulkan pertanyaan baru seperti “Bagaimana kita bisa menjelaskan kenapa ada dua asas yang berkontradiksi dalam alam semesta?” jika tidak ada alasan yang meyakinkan, apakah kepastian intelektual itu mungkin? Agustin benar-benar mempertanyakan semua hal, bahkan sampai kepada intelektualitas orang-orang Manichaean. Satu hal yang membuat Agustin tertarik dengan Manichaean adalah bualan mereka yang menyuguhkan bahwa kebenaran dapat didiskusikan dan membuat penjelasan bukannya penuntutan seperti yang dilakukan Kristen “faith before reason” (Stumpf dan Fieser, 2003: 126).

Agustin lantas meninggalkan Manichaean, dengan pikiran “mereka (filsuf itu) yang dipanggil sebagai akademisi (dalam hal ini kaum Skeptisisme) lebih bijaksana darisemua cara berpikir kita yang seharusnya meragukan semua hal, dan tidak ada satu kebenaran yang dapat dipahami oleh manusia.” Sekarang Agustin tertarik dengan kaum Skeptisisme, bersamaan dengan keraguan dia terhadap Tuhan. Dia menjaga pandangan materialistiknya dan dalam hal ini dia meragukan eksistensi dari substansiimmaterial dan keabadian jiwa.

Dalam rangka melanjutkan studinya, Agustin bertolak ke Roma dan setelahnya dia pergi ke Milan (disini Agustin menjadi seorang Milanisti). Saat di Milan, Agustin banyak terpengaruh oleh ajaran Ambrose yaitu salah satu Uskup di Milan dan pada tahun 387 M Agustin memeluk agama Kristen. Tidak banyak pelajaran teknik retorika yang didapatkan dari Ambrose, melainkan hal yang tak terduga yaitu apresiasi besar terhadap agama Kristen. Disini Agustin juga mendapatkan ajaran-ajaran tentang filsafat Plato, lebih spesifiknya ajaran dari Neoplatonisme dari Plotinus. Bagi Agustin terdapat banyak kesamaan antara ajaran Plato dan Kristen. Bahkan dia mengatakan bahwa Plato pasti sudah mengetahui tentang perjanjian lama, padahal Plato sendiri hidup jauh sebelum agama Kristen hadir.

Agustin berkata bahwa jika kita percaya pada agama Kristen, Tuhan akan menyinari jiwa dan kita akan mendapatkan pengetahuan adialami tentang Tuhan. Agustin pun telah merasakan bahwa terdapat batasan dalam filsafat. Setelah dia menganut agama Kristen, seketika itulah dia menemukan ketenangan dalam jiwanya.

Agustin mengemukakan tentang penciptaan dunia yaitu bahwa Tuhan menciptakan dunia dari ketiadaan, persis seperti yang tercantum dalam Alkitab. Dia percaya bahwa sebelum Tuhan menciptakan dunia, ‘ide-ide’ itu telah ada dalam benak Ilahi. Disini dia mempertahankan pandangan Plato mengenai ide-ide abadi. Pun dia juga setuju dengan gagasan Plotinus mengenai kebaikan dan kejahatan, yang mana eksistensi kejahatan itu tidak mandiri dan kejahatan itu berarti ‘ketiadaan Tuhan’. Semua ciptaan Tuhan adalah kebaikan, kejahatan berasal dari ketidakpatuhan manusia. Satu hal yang ditolak Agustin dari ajaran Neoplaton adalah bahwa semua itu satu. Menurutnya manusia terdiri dari dua bagian, yaitu raga material yang dapat rusak dan jiwa yang dapat mengenali Tuhan. Menurut Agustin manusia tidak pantas mendapat penebusan dari Tuhan, tetapi Tuhan memilih beberapa manusia untuk diselamatkan dari kutukan. Juga dia mengatakan bahwa manusia harus hidup dalam kesadaran sebagai salah satu manusia yang terpilih. Manusia mempunyai kehendak bebas, namun Tuhan telah menentukan kehidupan kita. Seperti suatu kebebasan dalam keterbatasan.

Dalam bukunya yang berjudul City of God, Agustin mengatakan bahwa dalam bumi ini terdapat dua kerajaan, pertama adalah kerajaan Tuhan yang diwakili oleh Gereja dan kedua adalah kerajaan Dunia yang diwakili oleh Negara. Dua kerajaan tersebut saling bertentangan untuk memperebutkan tahta tertinggi. Seperti kekaisaran Romawi yang runtuh pada saat St. Agustin hidup. Sebab itu, dimana terdapat orang-orang yang mencitai Tuhan disanalah akan ada kerajaan Tuhan dan dimana terdapat orang-orang yang mencintai Dunia disanalah akan ada kerajaan Dunia.

Hal menarik lainnya yang didapatkan dari sosok St. Agustin adalah ketika dia berbicara tentang cinta. Menurutnya manusia tidak bisa lepas dari cinta, cinta itu untuk melampaui diri kita dan untuk mengeratkan kasih-sayang terhadap objek yang kita cintai. Ketidaklengkapan manusia-lah yang mendorongnya untuk mencintai. Ada tiga hal yang dapat manusia cintai, (1) objek fisik, (2) manusia lain atau sebagainya, (3) diri sendiri. Semua hal ini akan memberikan kita beberapa kebahagian dan kepuasan. Semua orang berekspetasi mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan dari cinta, tetapi mengapa kita masih gelisah, tidak senang dan menyedihkan? Disini Agustin menyebutnya dengan “kekacauan cinta”, yaitu bahwa manusia lebih mencintai hal yang spesifik daripada yang seharusnya dan pada waktu yang sama gagal dalam mencurahkan cinta yang istimewa terhadap Tuhan. Maksudnya disini adalah “kekacauan cinta” akan menyebabkan sebuah kejahatan, yang mana manusia akan melupakan Tuhan ketika ia lebih mencintai hal-hal duniawi.

Pemikir Dari Kalangan Muslim

Dibawah kepemimpinan Muhammad (570-632M) Kerajaan Muslim mendirikan pusat kebuyaan di Persia dan Spanyol, dimana pada abad 9 sampai 12 aktivitas filosofis berkembang pesat. Pada abad ini, dunia Muslim lebih maju dalam pengetahuan tentang filsafat Yunani, sains, dan matematika ketimbang dunia Kristen. Terlebih lagi, Muslim mendapatkan akses ke ajaran-ajaran Aristoteles sebelum Eropa Barat mendapatkannya. Banyak teks-teks filsafat Yunani yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada tahun 833, filsafat telah dikenal baik di Baghdad, dimana sekolah disana telah melakukan translasi manuskrip filsafat dan sains untuk pembelajaran kreatif. Seorang pemikir ternama bekerja disini, seperti Avicenna (980-1037). Daerah lainnya yang menjadi titik pusat kebuyaan Muslim adalah Cordoba, Spanyol, dimana filsuf Muslim lainnya ada disini, seperti Averroes (1126-1198) yang telah banyak menuliskan filsafatnya. Walaupun, Avicenna dan Averroes menuliskan pemikirannya dalam bahasa Arab, mereka bukanlah bangsa Arab. Avicenna adalah orang Persia dan Averroes adalah orang Spanyol.

Avicenna (Ibn Sina)

Avicenna lahir di Persia tahun 980M, adalah seorang pemikir yang luar biasa. Dia belajar geometri, logika, ilmu hukum, Al-Quran, fisika, teologi, dan kedokteran. Avicenna menjadi praktisi fisika saat umur 16 tahun. Dia juga telah banyak menulis buku dan juga pemikirannya banyak dipengaruhi oleh ajaran Aristoteles, dia juga menunjukan beberapa corak pemikiran Neoplatonis dalam menentukan beberapa rumusan masalah.

Dalam menentukan teori penciptaan, Avicenna mengkombinasikan pandangan Aristoteles dan Neoplatonis. Teori inilah yang sangat hangat diperdebatkan pada abad ke-13. Avicenna memulainya dengan asumsi bahwa setiap ‘yang ada’ (dalam kondisi apapun yang telah kita alami) harus memiliki sebab. Setiap hal yang membutuhkan penyebab disebut ‘potensial’. Penyebab juga merupakan sebuah ‘potensial’ yang disebabkan oleh ‘sebab utama’. ‘sebab utama’ ini juga juga harus mempunyai penyebab, tetapi jika seperti itu kita akan terperangkap dengan serangkaian ‘sebab’ yang tiada akhir. Maka dari itu, harus ada ‘sebab utama’ yang tidak disimplikasikan sebagai kemungkinan tetapi keperluan, mempunyai eksistensi mandiri dan tidak berasal dari ‘sebab’ lainnya, dan ini yang disebut dengan Tuhan. Selanjutnya Aquinas memakai alasan ini dalam membuktikan eksistensi Tuhan (proof that God is exist).

Tuhan itu adalah puncak dari rantai makhluk, tidak mempunyai awalan, selalu bersifat actus (aktual) dan bagaimapun selalu terbentuk. Menurut Avicenna penciptaan berjalan atas keperluan dan terus-menerus. Konklusi ini dikatakan Bonaventura pada abad ke-13 sebagai kesalahan serius dan bertentangan dengan gagasan penciptaan dari Alkitab. Berdasarkan Bonaventura, dua hal utama dalam penciptaan adalah ini merupakan kehendak bebas Tuhan bukannya keperluan dan yang kedua, penciptaan hanya pada waktu-waktu tertentu, bukan berjalan terus-menerus. Selanjutnya disepakati oleh Aquinas, dan bagaimanapun filosofi penciptaan bukan untuk menentukan penciptaan terjadi pada waktu tertentu atau terus-menerus, ini merupakan permasalahan kepercayaan. Meskipun pandangan metafisik Avicenna menyebabkan kesulitan para teolog Kristen karena teori penciptaannya, pandangan psikologi Avicenna juga perlu mendapatkan perhatian serius.

Dalam psikologi, Avicenna menginginkan aktivitas intelektual manusia mendapatkan tempat istimewa. Inti utama dalam teorinya adalah adanya distingsi antara ‘potensial’ intelektual dan agen intelektual. Dalam menjabarkan distingsi ini, Avicenna memakai pandangan Neoplatonis dalam gradasi makhluk (manusia berada jauh dari cahaya). Apa yang ingin dikatakan Avicenna adalah bahwa pikiran manusia mempunyai sebab, karena itu bersifat ‘potensial’; bagaimanapun, setiap orang mempunyai ‘potensial’ intelektual. Agen intelektual disini adalah ‘sebab utama’ yang menggerakan setiap manusia untuk mencapai kebenaran.

Juga Avicenna membuat perbedaan antara eksistensi dan esensi. Dikatakan bahwa, esensi-ku itu berbeda dengan eksistensi-ku, esensi-ku tidak secara otomatis tercukupi, dan pada akhirnya tidak menjelaskan eksistensi dengan sendirinya. Esensi pikiran manusia adalah untuk mengetahui, tetapi tidak selalu mengetahui. Intelektual adalah kemampuan dalam pengetahuan, dan esensinya adalah untuk mengetahui; tetapi mengetahui disini hanya ‘potensial’. Intelektual tercipta tanpa pengetahuan apapun tetapi dengan esensi untuk mengetahui. Eksistensi pengetahuan dalam aktivitas intelektual manusia membutuhkan dua elemen, (1) dengan indra dimana kita menerima obyek eksternal dan kekuatan untuk mengingat gambar obyek dalam memori atau imajinasi internal, dan (2) kemampuan untuk menemukan esensi dari segala hal dengan kekuatan abstraksi. Inilah yang menjadi keunikan dari Avicenna−abstraksi ini tidak dilakukan oleh intelektual manusia tetapi hasil dari agen intelektual. Agen intelektual ini mengiluminasi pikiran manusia untuk memungkinkan kita untuk tahu, dengan cara menambahkan eksistensi kepada esensi pikiran kita. Agen intelektual adalah pencipta dari jiwa semua orang, dan dengan tambahan itu juga merupakan kekuatan aktif dalam pengetahuan manusia, dan hanya ada satu agen intelektual aktif bagi semua orang.

 

Averroes (Ibn Rusyd)

Seperti Avicenna sebelumnya, Averroes adalah seorang pemikir luar biasa. Dia lahir pada tahun 1126 M di Cordoba, Spanyol., dimana dia juga belajar filsafat, matematika, ilmu hukum, kedokteran dan teologi. Setelah menjadi hakim seperti ayahnya, lalu dia menjadi seorang fisikawan, tetapi dia banyak menghabiskan waktunya untuk menulis tulisan-tulisannya yang terkenal. Dia menghabiskan masa-masa terakhirnya di Maroko, ketika dia meninggal pada tahun 1198 pada usia 72 tahun.

Averroes menganggap Aristoteles adalah filsuf terbesar dari semua filsuf. Untuk alasan ini tulisan-tulisan Averroes sangat kental dengan ide dan gagasan Aristoteles. Namun, ada beberapa hal yang dia tidak sepakat dengan Avicenna. Ketika Avicenna berargumen bahwa penciptaan berjalan atas keperluan dan terus-menerus. Averroes menolak semua ide tentang penciptaan, dan berkata bahwa filsafat tidak mengenal doktrin semacam itu, dan itu adalah sebuah ajaran agama. Averroes juga menolak distingsi antara esensi dan eksistensi, dia mengatakan tidak ada distingsi dalam kedua hal itu. Malahan yang ada hanyalah distingsi logis antara esensi dan eksistensi dalam tujuan untuk menganalisis. Terlebih lagi, Averroes beranggapan bahwa jiwa adalah bentuk dari seseorang, tetapi jiwa disini bersifat material bukan spiritual. Dikatakan juga bahwa jiwa material memiliki mortalitas seperti tubuh, ketika seseorang meninggal maka tidak ada yang tersisa darinya. Apa yang membuat manusia berstatus istimewa ketimbang hewan adalah manusia terdiri dari akal dengan agen intelektualnya. Avicenna, mengatakan bahwa setiap orang mempunyai ‘potensial’ intelektual dan kekuatan spiritual, tetapi semua orang hanya mempunyai satu agen intelektual. Averroes sangat jelas menolak gagasan ini, dia secara eksplisit menempatkan akal manusia dalam agen intelektual universal dan menolak doktrin keabadian. Maksudnya, akal manusia dan agen intelektual itu adalah satu kesatuan, tidak ada yang abadi dalam dunia ini.

Menurut Averroes filsafat dan teologi mempunyai fungsinya tersendiri, karena setiap orang memiliki perbedaan yang harus dihormati. Dia mengklasifikasikannya dalam tiga kelompok manusia, (1) mayoritas orang hidup dengan imajinasi dan bukan dengan alasan, (2) kelompok teologis, mereka mencoba memikirkan alasan pendukung dalam justifikasi mereka, dan (3) adalah kelompok filsuf, yang merupakan kelompok minoritas. Mereka mengapresiasi kebenaran yang dicari oleh orang-orang beragama, tetapi mereka tidak menemukan alasan untuk melihat kebenaran ini melewati dogma-dogma agama. Averroes berpikir bahwa agama mempunyai fungsi sosial yang mana memudahkan akses filsafat terhadap pikiran kita, dimana hal ini tidak mampu dicapai dalam jalan filsafat. Bagaimanapun dia berpikir, bahwa teolog harus lebih baik dalam menalar hal-hal yang rumit dalam subyek materi maupun agama, bahwa selisih antara keduanya tidak bertentangan untuk sebuah alasan.

Thomas Aquinas (Penghujung Zaman Pertengahan)

Selanjutnya kita bertemu dengan Thomas Aquinas yang hidup dari tahun 1225 sampai 1274M. Dia lahir di kota kecil Aquino, Italia. Ayahnya adalah seorang petinggi Gereja di Aquino dan berharap kelak anaknya nanti dapat menikmati posisi tinggi dalam Gereja. Sejak umur 5 tahun, Aquinas sudah menempuh pendidikan Kristen di Gereja Monte Casino dan pada umur 14 tahun dia masuk ke Universitas Naples. Berbeda dengan St. Agustin yang telah mengkristenkan ajaran-ajaran Plato, Aquinas dia telah mengkristenkan ajaran-ajaran Aristoteles. Upaya dari Agustin dan Aquinas bukan semata-semata mereka ingin sekedar mencari sensasi. Mereka melakukan hal ini untuk membuktikan bahwa filsafat bukanlah ancaman terhadap dogma Kristen. Mereka menciptakan sebuah perpaduan antara agama dan ilmu pengetahuan yang diketahui sebelumnya agama menutup semua ilmu pengetahuan. Perlu dijelaskan bahwa ilmu pengetahuan disini adalah tentang hubungan manusia dan manusia juga manusia dan Tuhan, karena Agustin dan Aquinas menarik filsafat setelah Sokrates (Plato dan Aristoteles). Maka tidak heran jika setelahnya penemuan Galileo, Kepler dan sebagainya terhadap alam semesta masih ditentang oleh Gereja.

Aquinas mengatakan bahwa kebenaran iman itu dapat dicapai dengan keyakinan dan Wahyu. Dia juga berkata bahwa terdapat dua jalan dalam menuju tuhan, satu jalan melalui iman dan Wahyu Tuhan, dan satu jalan lagi melalui akal dan indra. Namun, jalan yang paling pasti adalah melalui iman dan Wahyu karena manusia mudah tersesat jika hanya menggunakan akal dan indra saja. Seperti ketika anda menyebutkan bahwa Jakarta berada di Asia, itu bukanlah sebuah pernyataan yang salah, namun kurang tepat. Lebih bijaksana jika anda membuka RPUL, disana anda akan menemukan informasi yang lebih tepat, bahwa Jakarta itu ibukota Indonesia, sebuah Negara kepulauan yang berada di Asia Tenggara.

Disini Aquinas ingin menjelaskan bahwa hanya ada satu kebenaran. Ketika Aristoteles menunjukkan sesuatu yang dibenarkan oleh indra dan akal kita, itu tidak bertentangan dengan ajaran Kristen. Dengan menggunakan bantuan indra dan akal, kita dapat mencapai suatu aspek kebenaran. Aristoteles juga mengemukakan bahwa adanya suatu “penggerak utama” yang menggerakan seluruh proses alam. Penggerak utama disini adalah Tuhan, namun Aristoteles tidak menjelaskan lebih lanjut tentang konsep Tuhan ini. Inilah mengapa Aquinas menganjurkan agar manusia bergantung sepenuhnya terhadap Alkitab dan ajaran agama untuk mengenal Tuhan. Juga Aquinas ingin mengatakan bahwa filsafat dan agama bukanlah hal yang bertentangan, melainkan kedua hal tersebut saling menguatkan dalam pencarian sebuah kebenaran.

Aquinas mempunyai suatu konsep khusus terhadap jinmanusia, dia mengatakan bahwa manusia merupakansubstansi fisik. Konsep ini menjadi unik mengingat Aquinas menegaskan bahwa manusia adalah satu kesatuan. Plato berkata bahwa jiwa itu terkurung dalam raga. Sama juga halnya dengan Agustin, mengingat dia mengatakan jiwa adalah sebuah substansi spiritual. Plato dan Aristoteles keduanya sepakat bahwa jiwa adalah suatu bentuk dalamraga yang tidak terlihat, seperti juga Aquinas berkata bahwa jiwa seseorang itu dependen terhadap tubuh dan juga sebaliknya. Maksudnya, seseorang dikatakan sebuah substansi fisik digarisbawahi kesatuan substansial dari manusia. Manusia adalah satu kesatuan antara jiwa dan raga. Tanpa jiwa, raga tidak mempunyai bentuk. Tanpa raga, jiwa tidak akan memiliki organ yang berfungsi untuk mendapatkan pengetahuan. Malaikat tidak mempunyai tubuh, mereka sepenuhnya adalah akal, walaupun manusia juga mahkluk rasional, atribut khusus manusia adalah eksistensinya yang dapat dikenali hanya ketika manusia utuh sebagai satu kesatuan jiwa dan raga. Walaupun jiwa berada dalam raga, namun itu-lah yang memberikan kita kehidupan, pemahaman dan fitur-fitur spesial lainnya. Jiwa juga bertanggungjawab dalam pembentukan kapasitas manusia dalam intelektualitas dan kehendaknya. Kapasitas tertinggi manusia terletak pada intelektualitas, membuat kita adalah hewan yang rasional dan membekali kita dalam mencapai sebuah perenungan terhadap Tuhan. Itulah yang dimaksud jiwa membutuhkan tubuh dan tubuh membutuhkan jiwa, pada dasarnya inti dari manusia adalah bentuk fisiknya karena itulah “proof that you’re existing”.

Setelah kita mengetahui konsep manusia dari Aquinas, sekarang kita beralih ke konsepnya tentang Negara oh Negaraku oOoOo penjaraku. Negara dikatakan oleh Aquinas adalah sebuah institusi natural. Ini didorong oleh sifat manusia. Dalam pandangan ini, Aquinas mengikuti teori politbiro politik Aritoteles, dari frase yang mengatakan bahwa “orang-orang merupakan mahkluk sosial.” Tetapi sejauh Aquinas mempunyai pandangan yang berbeda tentang manusia, dia juga sedikit memiliki pandangan yang berbeda dalam filosofi politik. Perbedaannya terletak pada dua konsepsi tentang peran dan tugas Negara.Aristoteles berharap Negara dapat memenuhi semua kebutuhan rakyat karena dia hanya mengenal kebutuhan dasar manusia. Berbeda dengan Aquinas yang percaya bahwa disamping kita memiliki kebutuhan material atau natural, kita juga memiliki kebutuhan supranatural. Oleh sebab itu, Negara tidak mampu memenuhi kebutuhan supranatural tersebut, dalam hal ini Gereja lah yang mampu memenuhinya.

Negara dalam pandangan ini, adalah sebuah manifestasi kehendak Tuhan yang mempunyai fungsi dari pemberian Tuhan terhadap komponen sosial dari sifat manusia. Bagi Aquinas, Negara bukan produksi dari dosa-dosa manusia, itu semua merupakan pandangan dari Agustin. Dalam sebuah kontra terhadap Agustin, Aquinas berkata bahkan “dalam sebuah kondisi tak bersalah, orang-orang akan hidup bermasyarakat.” Tetapi kemudian, “kehidupan bersama tidak akan bisa berlangsung, kecuali ada beberapa orang yang terkontrol untuk mencapai kebahagian bersama.” Disini Negara berfungsi untuk mengamankan kebahagian bersama dengan menjaga kedamaian, mengorganisir aktivitas masyarakat untuk mencapai keharmonisan, memberikan sumber daya untuk menopang kehidupan, dan mencegah ancaman terhadap kebahagiaan. Bagian terakhir fungsi Negara tentang mencegah ancaman terhadap kebahagiaan, tidak terbatas pada kebutuhan dasar manusia, itu juga mengartikan posisi Negara mempunyai hubungan kepada Gereja. Negara berada dibawah Gereja, tetapi bukan berarti Gereja adalah supra-negara. Aquinas tidak melihat suatu kontradiksi ketika mengatakan Negara mempunyai fungsi legitimasi dan pada saat bersamaan Negara harus berada dibawah Gereja tanpa menafikan bahwa Negara adalah lembaga otonom. Tetapi, sejauh manusia mempunyai kebutuhan supranatural, manusia juga memiliki kehidupan sosial. Disini Negara tidak boleh menjadi penghalang dalam menuju kehidupan spiritual manusia. Gereja tidak meragukan otonomi Negara, tetapi hanya mengatakan bahwa Negara tidak memiliki otonomi absoulut. Artinya disini Negara dengan kesadarannya harus mau mengikuti Saya Gereja (Stumpf dan Fieser, 2003: 180).

Pandangan Aquinas terhadap wanita tidak bedanya seperti Aristoteles yang menganggap wanita adalah setengahnya pria. Anak-anak juga hanya mewarisi ciri-ciri ayahnya, sebab wanita bersifat pasif dan reseptif sedangkan pria bersifat aktif dan kreatif. Pandangan ini juga diperkuat dengan pesan-pesan dalam Alkitab, yang berbunyi “Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam.” Akan tetapi, hanya di dunia ini saja kaum wanita lebih rendah dari pria. Saat di surga jiwa wanita dan jiwa pria memiliki kesetaraan.

Akhir dari Zaman Pertengahan

Akhir zaman Pertengahan sendiri ditandai dengan, perang 100 tahun oleh Prancis dan Inggris, sengketa tahta Kekaisaran Romawi Suci antara Dinasti Habsburg dari Austria dan Vatikan, berhasilnya bangsa Mongol menguasai jalur Sutera dari Asia sampai Rusia, Polandia dan Italia. Masuknya ekspansi militer bangsa Mongol ke Eropa, menjadi momok menakutkan bagi Kerajaan – Kerajaan di Eropa lainnya. Kemenangan bangsa Mongol sendiri hanya sekejap saja, karena tidak lama setelah mereka menguasai sebagian Eropa, wabah pes atau lebih dikenal maut hitam melanda Eropa. Wabah ini sendiri, diakibatkan oleh bangsa Mongol yang melempar mayat-mayat ke dalam kota yang telah dikepungnya, salah satunya adalah Genoa di Italia. Mayat-mayat ini tidak diurus oleh warga kota sehingga membusuk, menjadi makanan gratis bagi belatung dan tikus-tikus. Selain itu ketidak seimbangan politik dan ekonomi Eropa, mengakibatkan banyak rakyat miskin dan sulit untuk mengurus dirinya sendiri, bahkan kesehatan dirinya. Wabah ini menyebar ke seluruh Eropa, bahkan merenggut dua pertiga populasi di Eropa. Wabah ini juga menyebar ke Asia, melalui jalur perdagangan Sutera. Hal ini juga mengakibatkan kejatuhan Kekaisaran Mongol dan melepaskan banyak kota-kota yang dilalui jalur sutera. Akibat dari wabah ini, Kerajaan-Kerajaan di Eropa mulai mencari rute laut, memutari Afrika sampai ke Asia. Pada nantinya mulai terjadi penjelajahan besar-besaran oleh Bangsa Eropa, untuk mencari jalur baru perdagangan ke Asia. Wabah ini juga membuka wawasan para pemikir Eropa, untuk melakukan penelitian alam seperti Astronomi, Medis dan Fisika, dan mulai menimbulkan pertentangan dengan kaum gerejawan.

Penutup

Zaman pertengahan adalah sebuah kemunduran bagi bangsa Eropa, kekuatan Gereja saat itu telah mengubur warisan filsafat Yunani kuno. Semua aktivitas intelektual ditarik ke dalam pembelajaran agama Kristen. St. Agustin dan Thomas Aquinas merupakan beberapa nama yang diketahui telah melakukan sebuah terobosan dalam teologi Kristen. Namun, tetap saja mereka tidak bisa lepas dari kekuatan Gereja saat itu yang dibuktikan dengan pandangan mereka terhadap Negara. Sangat disayangkan seorang seperti St. Agustin yang mempunyai daya kritis tinggi harus takluk dalam dogma-dogma agama. Ketenangan yang dia dapatkan ketika menganut agama Kristen hanya sebuah kelelahan dalam pencarian.

Dalam satu hal, kita harus menyepakati kemajuan Muslim dalam berbagai hal pada zaman pertengahan. Kemajuan ini disebabkan sifat terbuka Muslim dalam ilmu pengetahuan, salah satunya adalah mereka tidak melihat filsafat sebagai ancaman bagi agama. Melainkan, filsafat digunakan untuk lebih mendekatkan diri terhadap agama. Dalam kasus ini, kita dapat melihat bahwa pendidikan adalah salah satu faktor penting dalam kemajuan setelah politik tentunya. Bagaimana mungkin suatu bangsa bisa maju jika tingkat pendidikan mereka masih rendah? Masalah-masalah yang kita temui dalam keseharian tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan mengucap nama Saya Tuhan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Stumpf, Sammuel Enoch & Fieser, James. Socrates to Sartre and Beyond: a history of philosophy−7th ed. Newyork. McGraw-Hill. 2003

Schmandt, Henry J. Filsafat Politik: Kajian Historis dari Zaman Yunani Kuno Sampai Zaman Modern cetakan-3. Yogyakarta. Pustaka Belajar. 2009

Advertisements